Kerja

Kerja (persembahan) buat Tuhan

Oleh: Angela Christy

“I hate this job. I hate this job ? ”

Nggak tahu deh, udah berapa kali kalimat ini terus menerus aku
ulang-ulang dalam hati. Rasanya kekesalan demi kekesalan semakin
bertumpuk dalam hati.
Dan yang lebih ngeselin lagi. Semakin aku kesal, semakin semua pekerjaan
ini terasa berat.


Benciiii!!!!! Benciiii!!!!

Apalagi yang harus dikatakan supaya bisa lebih lega.  Ternyata apapun
yang aku katakan bukannya bikin lega, tapi malah bikin sumpek.

Gimana nggak ??? Hari pertama masuk kantor, nggak ada yang tersenyum,
nggak ada yang menyapa apalagi ngajak ngobrol (dan ternyata setelah
beberapa hari! kerja, aku baru tahu kalau katanya ada juklak yang
mengatur bahwa karyawan dilarang ngobrol waktu jam kerja, ajaib!!),
semua berwajah serius. Satu-satunya yang melegakan hati hanya seorang teman baru yang sama-sama baru diterima di kantor.

Oke deh, lupakan hari pertama. Dimana-mana juga biasanya orang kalo
hari pertama  kerja memang unforgettable. Waktu itu aku cuma berharap
semoga esoknya nggak akan seburuk itu.

But ? ternyata tidak!

“Christy, buat laporan ini ? laporan itu. Semua harus selesai dalam 1x 24 jam!
Ingat ya, setiap tugas dari saya, apapun itu harus selesai dalam 1 x 24 jam !!”
“Christy! Kalau telponnya bunyi, jangan sampai kring lebih dari dua kali! Harus
sudah kamu angkat!” Fiuhh ? galak amat. Memang sih ngomongnya sambil senyum (hambar), tapi dalem boo?


“Wah, saya nggak tahu data itu ada dimana. Tanya aja sama yang lain”.

“Lho, itu kan yang tahu orang cabang Balikpapan atau Banjarmasin .
Kejar aja kesana”.

Gile benerrr. Untuk minta data aja susahnya minta ampun. Gimana bisa
bikin laporan. Aku bener-bener nggak ngerti kenapa suasana kantor bisa
seperti ini. Orang-orangnya susah diajak kerja sama, self defense tinggi, gampang
saling menyalahkan, wah bener-bener lingkungan kerja yang tidak nyaman. Ini
yang salah apanya ya ? SDM-nya kah? Management-nya kah? Lingkungannya? Jenis pekerjaannyakah ? Atau apanya?

Kayaknya semakin hari bukannya semakin baik, tapi malah semakin buruk.
Tiap hari  ada saja hal-hal ‘mengagumkan’ yang kutemukan.

Pulang jam setengah enam merupakan hal ‘aneh’ (padahal jam kerja hanya
sampai jam  5), katanya ada perhitungan lembur, tapi kalau hanya sampai
jam setengah delapan istilahnya itu kan masih sore, masak mau ngurus
surat lembur. Sabtu Minggu katanya libur, tapi kebanyakan dipakai untuk
lembur. Uang lembur nggak jelas kapan keluarnya, katanya sih sekitar 3-4 bulan
kemudian. Satu hal yang paling nggak ‘sreg’ di hatiku, setiap kali meeting pasti
memakan waktu lama. Dan lamanya itu bukan untuk mencari solusi dari
permasalahan yang ada, tapi selalu mencari ‘siapa yang salah’. Pokoknya, pada saat meeting, jangan sampai kita salah menyebut nama orang lain. Siapapun itu pasti langsung dipanggil menghadap saat itu juga. Jadi, sering kali waktu terbuang percumahanya untuk mendengarkan pembelaan diri dan ucapan-ucapan yang saling menyalahkan,
dan ujung-ujungnya ? tidak ada solusi.

Jadi kebayang, seandainya waktu itu ada yang minta aku untuk buat list
‘Ten things you hate about your company’ mungkin aku bisa bikin sampai 100.

Pokoknya the point is : I hate this job!

Wake up girl ? ! You pray for this job, remember!!

Iya sih. Memang betul. Tapi keadaan ini bener-bener bikin aku
tertekan. Aku ingat   komitmen-ku pada Tuhan. Apapun itu Tuhan, bagaimanapun kehidupan yang harus kujalani, selama itu membuat aku semakin dekat denganMu, aku akan menjalaninya dengan sukacita. Tapi kalau seperti ini?

Setiap pulang, sampai rumah aku sudah ‘terlalu capek’ untuk berdoa dan membaca    firman. Saat teduhku jadi super bolong-bolong. Kalau di rumah, bawaannya marah    melulu. Kenapa rasanya nggak ada yang ngerti.

“There’s gotta be something more than this”.

Kalimat ini terus terngiang-ngiang di telingaku.

Masak sih, aku harus hidup kayak gini terus. Tuhan, kenapa sih Engkau
menempatkan aku di tempat seperti ini? Pekerjaan yang tidak sesuai
dengan bidang pendidikanku, suasana kerja yang nggak enak, tempat kerja yang jauh,
waktu kerja yang nggak jelas. Aduhhh ? kenapa Tuhan ? Rasanya setiap
hari yang ada hanya keluhan.

Di tengah-tengah kejenuhan yang sudah memuncak, satu hari Tuhan
menegurku dengan suatu nyanyian yang sudah ‘terlalu sering’ dinyanyikan sehingga
kadang-kadang kita lupa ‘mendengarkan’ dengan sungguh-sungguh.

Hitung berkat satu per satu

Kau kan kagum oleh kasihNya

Berkat Tuhan mari hitunglah

Kau niscaya kagum oleh kasihNya

Aku tersentak.

Memang benar, there’s gotta be something more than this. Hidup nggak
boleh begini terus. Tapi hidup nggak akan berubah kalau aku sendiri
nggak merubah cara pandangku.

So, aku mulai menghitung berkatku.
Hari pertama kerja.

Seorang satpam menyapa ramah, “Hari ini udah mulai masuk ya mbak”.

Seorang office boy tersenyum, “Wah, mbak iki ayu rek ..”

Aku mendapatkan seorang sahabat baru, bisa berbagi suka duka dan
saling menguatkan.

Di antara Operational Director dan Deputy Director yang menjadi atasan

langsungku, walaupun yang satu galak dan tidak pernah puas, tapi yang
satu ramah dan baik dan selalu memberikan penghargaan untuk setiap pekerjaan yang
berhasil aku selesaikan dengan baik.

Dan aku terus menghitung, setiap senyuman adalah berkat, setiap pujian
adalah sukacita, setiap tugas dan pekerjaan adalah kepercayaan.

I have to change.

Setiap pagi aku tersenyum pada setiap orang yang kutemui. Kuucapkan
selamat pagi dengan senyuman (walaupun sering kali tidak ada balasan), setidaknya
seorang sahabat pasti selalu membalas.

Dan, hei ? rasanya banyak yang berubah.

Memang benar bahwa hidup ini merupakan suatu chain reaction. Dan di
tengah-tengah suasana kerja yang kurang nyaman itu mulai tumbuh
bunga-bunga persahabatan.
Memang kita tak dapat merubah seluruh dunia hanya dalam sekejap. Tapi
setiap perubahan ke arah yang lebih baik adalah berkat.

Rekan-rekan kerja mulai lebih terbuka dan saling membantu dalam
pekerjaan.

Syukur atas talenta yang diberikan Tuhan, aku memang punya sedikit
kemampuan lebih di bidang komputer sehingga banyak rekan-rekan yang sering
bertanya. Dari saling membantu itulah akhirnya suasana kerja yang kaku mulai
cair.


Dan betapa bahagianya ketika suatu hari kemudian Tuhan menyapaku
lembut, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka
melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di
sorga” (Matius 5 : 16)

Namun tak bisa dipungkiri, sistem perusahaan yang begitu menekan tetap

mendorongku untuk berusaha mencari pekerjaan lain.

Hanya dalam waktu 3 bulan, tiba-tiba aku mendapat panggilan dari
perusahaan lain, dan hanya dengan satu kali test, mereka memutuskan
untuk menerima aku.

Sungguh-sungguh suatu berkat yang tak terduga. Apalagi di kantor baru
tersebut aku ditempatkan di bagian IT Support & Multimedia, yang memang lebih
sesuai dengan bidang pendidikanku.

Ketika aku mengajukan pengunduran diri, salah satu bosku yang sudah
merasa cocok  denganku berusaha mempertahanku. Namun dengan tekad yang
sudah bulat aku memutuskan untuk tetap memilih perusahaan baru walaupun
perusahaan tersebut jauh  lebih kecil daripada perusahaan tempat aku
bekerja saat itu.

Dan untuk menunjukkan niat baikku, selama dua minggu terakhir, aku
berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan yang menjadi tanggung
jawabku. Lembur  tanpa mengurus surat lembur. Aku ingin melakukan yang terbaik. Yang terbaik yang dapat aku berikan. Sampai tibalah hari terakhir aku bekerja, aku mendapat informasi bahwa Berita Acara Serah Terima pekerjaanku belum ditandatangani oleh sang Direktur dan beberapa teman menjelaskan bahwa biasanya berkas tersebut baru
ditandatangani 2/4 minggu kemudian, dan setelah itu baru aku bisa
menerima ijazah dan gajiku. Ada perasaan marah ketika menyadari bahwa
ternyata semua kerja kerasku tidak berarti apa-apa.

Tapi Tuhan memang baik sekali.

Dia tidak memperbolehkan kemarahanku merusak pekerjaan terbaik yang
telah kupersembahkan. Aku telah melakukan yang terbaik karena Tuhan sendiri
yang telah  memampukanku, jadi kalaupun ternyata ada beberapa orang yang
tak dapat menghargainya, kenapa aku harus berkecil hati? Aku melakukannya karena
Tuhan, bersama Tuhan dan untuk Tuhan.

Dan untuk itu Ia telah menyediakan hadiah yang jauh lebih indah. Berkat-berkat
yang menyirami hati. Di hari terakhir itu; Seorang sahabat memelukku.

Seorang rekan kerja memutar lagu kesayanganku sepanjang hari.

Seorang lagi membuat sketsa wajahku.

Aku menerima banyak ucapan terima kasih dari rekan-rekan kerja bahkan
dari departemen lain. Dan seorang office boy menangis menyalamiku sambil berkata,”Mbak,
terima kasih ya karena selalu tersenyum kalau ketemu saya ?”

Dan ketika seorang ibu deputy director dari departemen lain (yang
sehari-harinya terkenal judes, but somehow aku yakin hatinya penuh kasih) memeluk dan
menciumku sambil mengucapkan doa dan berkat buatku, dalam hatiku aku
memperbaharui kembali janjiku pada Yesus.

Bapa, dimanapun aku Kau tempatkan, apapun pekerjaanku, selama itu
membuatku lebih dekat denganMu dan menyenangkan hatiMu, aku akan
melakukannya dengan segenap hatiku dan dengan segenap kemampuanku,
sebagai persembahanku untukMu.

Memang kita tidak dapat merubah segalanya. Tapi jika kita menyadari
bahwa setiap  tanggung jawab yang diletakkan di tangan kita adalah suatu
pekerjaan buat Tuhan,  maka sudah sepantasnyalah kita melakukan yang
terbaik.


So guys, kalau saat! ini kamu merasa

Pekerjaanmu tidak terlalu berarti?

Lingkungan kerjamu benar-benar tidak nyaman?

Perusahaan berlaku tidak adil padamu?

Rekan-rekan kerjamu saling menjatuhkan?

Kerja kerasmu sia-sia ?

Jangan pernah berkecil hati.

Selama engkau sungguh-sungguh menyadari bahwa engkau telah memberikan
yang terbaik, engkau telah berlaku jujur dan setia dalam pekerjaanmu,
ingatlah, Bapamu di surga selalu memperhatikan engkau. Dan Ia tersenyum
padamu.

“Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu
tidak sia-sia.” ( I Korintus 15:58.)

Karena itu, marilah kita mulai pekerjaan kita hari ini de! ngan senyuman
dan sukacita di hati, sehingga di akhir hari kita dapat menjawab
pertanyaan seperti yang tertuang dalam sebuah kidung,

“Sudahkah yang terbaik kuberikan kepada Yesus Tuhanku ?”

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu
seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3 : 23)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: