Morfofonemik

Morfofonemik Bahasa Sangir

Oleh

Maxi C.M. Lengkey

Abstract

The aim of this writing is to describe morphophonemics in Sangirese, where morphophonemics can be discerned based on the process of creating new word(s). New words creating processes , should be looked at from morphological and phonological point of view, in other words , a process to form new words, can be done, by combining bound and bound or bound and free morphemes, by reduplication and by compounding.Phonological aspect here hold important roles where distinctive features are used to show the result of morphophonemics.

Key Words : morphophonemics, free morpheme, bound morpheme, distinctive features, reduplication and compounding.

I. Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan salah satu bagian dalam kebudayaan yang ada pada semua masyarakat di dunia. Bahasa terdiri atas bahasa lisan dan tulisan (Koentjaraningrat,1980 : 9). Sebagai bagian dari kebudayaan di mana manusia memegang peranan penting, bahasa juga turut ambil bagian dalam peran manusia itu karena fungsinya sebagai alat komunikasi yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Karena bagian dari budaya dan peranannya terhadap manusia inilah maka bahasa perlu dilestarikan, terutama yang berkenaan dengan pemakaian bahasa daerah karena merupakan lambang identitas suatu daerah, masyarakat, keluarga dan lingkungan.

Pemakai bahasa daerah dapat menciptakan kehangatan, dan keakraban, oleh karenanya bahasa daerah diasosiasikan dengan perasaan, kehangatan, keakraban dan spontanitas (Alwasilah, 1993)

Bahasa Sangir (selanjutnya di singkat BS) merupakan salah satu bahasa daerah di Sulawesi Utara. Kata Sangir memiliki beragam makna yang didasarkan pada beberapa pendapat yang menjelaskan asal usul nama Sangir atau Sangihe tersebut. Ada pendapat Sangir berasal dari seorang laki-laki pengembara bernama Bikibiki yang menemukan getah dari pohon rumbia lalu dibawa ke tempat tinggalnya. Malamnya ia bermimpi melihat seorang perempuan, dan ternyata paginya getah itu telah berubah menjadi seorang anak, tetapi anak tersebut sedang menangis. BS ‘menangis‘ adalah Sangi, dan karena bunyi tangisannya he! he! maka terjadilah kata Sangihe.

Ada juga yang berpendapat bahwa secara etimologis Sangir berasal dari kata ‘Sang-Air’ yang berarti pelaut. Pendapat yang lain mengatakan, bahwa nama Sangir diberikan oleh orang Belanda Zanger yang artinya ‘penyanyi’. Memang tidak dapat disangkal, salah satu kesenian daerah Sangir yang paling menonjol yakni seni suara.

Menurut Salea-W(1977), BS terdiri atas :

1. Dialek Tabukan : a. sub dialek Marore

b. sub dialek Tabukan

c. sub dialek Manalu.

2. Dialek Manganitu : a. sub dialek Kendahe (Kendar)

b. sub dialek Kolongan

c. sub dialek Tahuna

d. sub dialek Manganitu

e. sub dialek Tamako

f. sub dialek Lawang.

3. Dialek Tagulandang

4. Dialek Siau

Bahasa Sangir menurut pemakaiannya yaitu, bahasa umum, bahasa yang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari, kemudian bahasa Sasahara yang juga disebut bahasa samaran, biasanya dipergunakan untuk menolak malapetaka dan terakhir bahasa sastra.

Di samping berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga dapat diidentifikasi menurut ciri-cirinya seperti bunyi (Dineen 1967:6). Bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara ( Chaer 1994:43).

Bunyi dalam bidang linguistik dapat dipelajari dalam kajian fonologi dan morfofonemik. Istilah morfofonemik atau morfofonologi muncul pertama kali pada kongres pakar Filologi Slavic di Praha Oktober 1929. Istilah ini dipopulerkan oleh Trubetskoy pada tahun 1933. Bloomfield (1933) dalam tulisannya mencantumkan istilah morfofonemik pertama kali. Hal ini terjadi pada bidang Linguistk di Amerika yang kemudian penelitian di bidang ini dilanjutkan oleh pengikut Sapir, Swadesh yang membedakan fonologi dari fonemik..

Pada penelitian awal, proses morfofonemik juga terjadi dalam BS dengan ditemukannya proses pemunculan fonem misalnya, munculnya konsonan alveolar nasal /n/ dalam konstruksi kombinasi prefiks /ma-/ + /deno/ [mandeno] ‘mandi’. Ditemukannya juga proses peluluhan fonem misalnya, luluhnya konsonan bilabial hambat tak bersuara /p/ menjadi konsonan bilabial nasal /m/ pada konstruksi kombinasi prefiks /na-/ + /puraŋeŋ/ [namuraŋeŋ] ‘berjongkok’ .

Secara teoritis gramatika sebuah bahasa sekurang-kurangnya memiliki empat komponen : kata (leksikon) yang dibahas dalam morfologi, bunyi bahasa (tata bunyi) yang dipelajari dalam fonologi, tata kalimat yang dipelajari melalui sintaksis dan makna bahasa yang dipelajari dalam semantik (Culicover, 1976 :1-2). Untuk beberapa kasus dan gejala kebahasaan tertentu pembahasaan melibatkan dua atau lebih cabang yang telah disebutkan di atas maka dalam linguistik dikenal istilah-istilah morfonologi/morfofonemik, morfosintaksis dan morfosemantik.

I.1.2. Permasalahan

Masalah penelitian ini melibatkan morfologi dan fonoogi yang biasa dikenal dengan istilah morfonologi atau morfofonemik. Pentingnya kajian ini karena setiap pembahasan bahasa yang sistematis karena pertalian antara sistem gramatika dan sistem fonologis termasuk sub sistem utama dalam suatu bahasa.

Masalah atau gejala kebahasaan yang dikaji dan dijelaskan yaitu bagaimana proses, bentuk, dan kaidah morfofonemik dalam bahasa Sangir, semua ini dapat dirumuskan seperti berikut :

Bagaimanakah proses, bentuk, sifat dan kaidah modifikasi bunyi yang membentuk realisasi morfem dalam kombinasi morfem pada afiksasi, reduplikasi dan pemajemukan BS?

 

II. LANDASAN TEORI

Teori yang digunakan yaitu teori struktural dan fonologi generatif untuk mendeskripsikan morfofonemik pada bahasa Sangir ini. Teori struktural di dasarkan pada konsep Trubetskoy (1931) dalam Dressler (1985 :1-2), menurutnya ada tiga komponen utama dalam morfofonemik yaitu ;

(1) Komponen yang mengkaji struktur fonologis morfem. Kajian ini termasuk fonotaktik intramorfemik atau kaidah/ kesatuan struktur morfem (lihat Malmkjaer, 1991 :320).

Kesatuan fonotaktik merupakan pembatasan sintakmatik pada representasi lahir (fonologis) dengan kata lain merupakan susunan/kombinasi horizontal dari bunyi-bunyi yang diperbolehkan dalam satu bahasa. Fonotaktik merupakan salah satu cara pemisahan struktur morfem (Spencer, 1993: 462-463).

(2) Morfofonemik/morfofonologi juga mengkaji tentang bunyi gabungan yang membentuk realisasi morfem dalam kombinasi morfem. Realisasinya mungkin menimbulkan variasi morfem (alomorf)

(3) Bagian terakhir dari kajian fonologis, yaitu serangkaian alternasi yang membantu fungsi morfologis.

Alternasi dapat dibagi menjadi dua menurut arah pengaruh bunyinya, (fonetis atau fonemis) . Jika arah perubahannya ke depan di sebut asimilasi progresif( progressive assimilation) sebaliknya apabila pengaruhnya ke belakang disebut asimilasi regresif (regressive assimilation (lihat Verhaar,1989 :34-35).

Teori yang kedua yang berkaitan erat dengan perubahan bunyi yaitu fonologi generatif (Schane, 1992) dengan menjelaskan jesnis-jenis proses fonologis yang terjadi. Proses fonologis merupakan perubahan bunyi ini terjadi karene beberapa faktor : (1) perubahan itu disebabkan oleh lingkungan bunyi lain yang ada di dekatnya, dapat berupa bunyi konsonan ataupun vokal; (ii) disebabkan oleh adanya modifikasi penyukuan (misalnya peneyisipan V/K) dan (iii) disebabkan oleh bunyi itu berada di perbatasan morfem atau perbatasan kata. Jenis-jenis proses fonologis dapat berupa :

(1) Asimilasi , suatu segmen bunyi menerima ciri-ciri bunyi dari suatu ruas yang lain, asimilasi ini terdiri atas ; (a) Konsonan mengasimilasi ciri-ciri konsonan; (b) konsonan mengasimilasi ciri-ciri vokal; (c) Vokal mengasimilasi ciri-ciri vokal.

(2) <Pelesapan, sebuah segmen bunyi dapat dilesapkan pada posisi tertentu sehingga mengubah pola persukuan, misalnya dalam bahasa Bali (lihat Pastika, 1990 : bd Pastika 1992)

Putih +- aŋ [putiaŋ] ‘putihkan’

Kalah + -in [ kalain] ‘kalahkan’

Upah + -ne [upane] ‘upahnya’

Kaidahnya : [-kons,-sil,-ren] à Ø / {#___ [+sil], [+sil]___ [+ sil]

Penjelasan : bunyi /h/ dilesapkan apabila berada di antara vokal ayau diposisi awal sebelum vokal.

3) Penyisipan bunyi (Epentesis):

Sebuah bunyi konsonan atau vokal diantara vokal.

a) Penyisipan vokal;

(b) Penyisispan konsonan

(4) <!-Penggabungan bunyi

Dua bunyi gabungkan menjadi satu unit yang kompleks. Artinya bunyi kompleks itu tersiri atas bunyi primer dan bunyi sekunder.

(5) Metatesis

Metatesis berarti pertukaran tempat antar bunyi dalam suatu suku kata.

Untuk memperjelas dan memperlihatkan proses morfofonemik/morfonologi yang terjadi, tiga model analisis kata yang dapat di pakai yaitu, model Item and Arrangement (IA ) digunakan untuk melihat perubahan fonem , penempelan afiks secara lahir dalam bahasa aglutinasi. Model ini mendaftar semua alternasi stem lahir ( structure stem alternants). Bentuk yang kedua Word Paradigm (WP) lebih banyak digunakan pada kajian morfo sintaksis .Model ini memilih kata sebagai unit referensi leksikal dalam bentuk daftar paradigma ( lihat Spencer , 1993: 53; Bybee, 1988: 120). Model terakhir Item and Process (IP) dengan model ini proses morfofonemik dapat dilihat serta membuat generalisasi, sekumpulan fenomena alternasi, bentuk dasar dan leksem . Dalam bentuk ini dibedakan bentuk dasar dan bentuk turunan yang merupakan aplikasi dari proses tertentu. Kata-kata dari stem yang sama tidak perlu diurutkan seluruhnya melainkan stem yang dianggap asal saja ( Spencer,1993:50; Bybee, 1988:119-123).

 

III. Proses Morfofonemik Bahasa Sangir

Apabila dua morfem digabungkan atau diucapkan yang satu sesudah yang lain, ada kalanya terjadi perubahan pada segmen-segmen yang bersinggungan. Kajian tentang perubahan pada segmen-segmen yang disebabkan oleh hubungan dua morfem atau lebih disebut proses morfofonemik.

Morfofonemik dapat juga diartikan sebagai kajian morfologi yang menjelaskan perubahan fonologi yang terjadi karena morfem yang satu digabungkan dengan morfem yang lain dalam rangka pembentukan kata . Perubahan yang dimaksud menyangkut dua hal :

1) penambahan fonem

2) perubahan suatu segmen menjadi segmen yang lain akibat proses pembentukan kata.

3.1. Penambahan Segmen Konsonan.

3.1.1 .Penambahan Segmen Nasal /m/.

Bunyi nasal /m/ akan disisipkan atau ditambahkan setelah prefiks/n∂-/ yang diikuti dengan konsonan /p/ ([+bil + ant, – kor) dan setelah prefiks /s∂-/ yang diikuti konsonan /b/ ([+bil,+ant -ber]). Contoh:

a./ n∂ + pebera?/ [n∂mpebera?] ‘berbicara’

b. / n∂ + p∂habare?/ [n∂mpehabare?] ‘mengabarkan’

c. /n∂ + pemila/ [n∂mpemila] ‘membentangkan’

d./s∂ + b∂ka/ [s∂mb∂ka] ‘setengah

e. /s∂+ bale/ [s∂mbale] ‘serumah’

Berdasarkan data di atas dapat diberikan informasi formal seperti di bawah ini :

Kaidah 1 menyatakan bahwa[m] ([+nas, +ant , + kor]) akan disisipkan apabila berada sesudah prefiks (n∂- dan s∂-) dan sebelum konsonan /p/ ([+bil + ant, – kor) dan konsonan /b/ ([+bil,+ant -ber]).

3.1.2 Penambahan Fonem Nasal /n/.

Contoh :

a. /ma +deno? / [mandeno] ‘mandi’

b /s∂ + dale/ [s∂ndaleŋ] ‘berjalan

c./pa + dui/ [pandui] ‘tertinggi’

2.

 

Kaidah 2. Bunyi nasal /n/ akan disisipkan atau ditambahkan setelah prefiks/ma-/ dan /s∂-/ yang diikuti oleh konsonan ([ +kor, +ant, +bers)]/d/

3.1.3 Penambahan konsonan / ŋ/

Contoh :

a. /m + ∂du/ [m∂ŋdu] ‘meludah’

b. /m + ola/ [mŋola] ‘menuding’

c. /ma +inung/ [maŋinuŋ] ‘minum’

d /ma + ario?/ [ma ŋario?] ‘baju’

c. /n∂ + aliŋ/ ŋaliŋ] ‘ mengungsi’

d. / n∂ + ilure/ [n∂ŋilure] ‘berhenti’

3.

Kaidah (3) fonem konsonan /b/ ([+ant, +ber]) akan berubah menjadi konsonan /m/ ([+ant, +nas]) apabila diawali oleh prefiks / m∂/ dan segmen bunyi yang mengikuti segmen bunyi yang berubah adalah vokal /u/ ([ +sil, +ting, +bul, +bel]) dan vokal / ∂ / ([+sil, +bel, +mal]) serta prefiks /pa/ yang diikuti oleh vokal /o/ ([+sil, +bul,+bel]).

3.2.2 Perubahan /p/ /m/

Contoh:

a. /ma + panda/ [mamanda] ‘memandang’

b. /ma + peru/ [mameru]

c. /na+puraŋeŋ/ [namuraŋeŋ] ‘berjongkok

 4

Kaidah (4). Konsonan /p/ ([+ant, +kor]) akan berubah menjadi /m/ ([+ant, +nas]) apabila diawali oleh prefiks /ma/ dan diikuti oleh segmenbunyi awal /a/ dan /e/.

3.2.3.Perubahan /b/ /w/

Contoh :

a. /na +buna/ [nawuna] ‘tiba’

b./na +bantale/ [nawantale] ‘lahir’

c. /na+ bŋsin/ [nawŋsin] ‘ membenci’

d. /ni + buresi/ [niwuresi] ‘dibersihkan’

5. Kaidah (5). Konsonan /b/, ([+ant, -bers ]) akan berubah menjadi /w/ ([+son, + bel, +bul, +mal]) apabila: 1) diawali oleh prefiks /na/ dan diikuti oleh vokal /u/ dan /∂/ ; 2) di awali oleh prefiks /ni/ dan diikuti oleh vokal /u/.

3.2.4 Perubahan /s/ /n/

Contoh :

a. /na +suaŋ/ [nanuaŋ] ‘ berlutut’

b. /na + siŋkase/ [naniŋkase] ‘merobek’

c. /n +sepa/ [nnepa] ‘ mengunyah’

d. / n∂+saye/ [n∂naye] ‘menggantungkan’

 

Kaidah 6. Konsonan /t/ ([+kor, +ant, -ber]) akan berubah menjadi konsonan /n/ ([+ nasal, +kor, + ant]) apabila diawali oleh prefiks /m∂/ dan diikuti oleh vokal /i/ dan vokal /a/.

3.2.6. Perubahan fonem /d/ /r/

Contoh :

a). /ni+ deno/ [nireno] ‘dimandikan’

b) /ni + dui/ [nirui] ‘diturunkan’

 

Kaidah (7). Konsonan /d/ ([+ kor, +ant, -mal]) akan berubah menjadi konsonan /r/ ([+ant, +kor, + mal]) apabila diawali oleh prefiks /ni/ dan diikuti oleh vokal /e/ dan vokal /u/.

 

3.3 Proses Reduplikasi.

Ramlan (1987:63) mengatakan bahwa proses reduplikasi adalah pengulangan gramatikal. Baik seluruhnya maupun sebagian , dengan atau tanpa variasi fonem. Hasil proses ini disebut kata ulang dan susunan yang diulang disebut bentuk dasar (BD).

Terkait dengan ikhwal bentuk dasar , Parera (1988:48) mengatakan, sebuah bentuk dasar adalah sebuah bentuk bahasa yang menjadi tumpuan pembentukan bentuk lain yang lebih luas.

Untuk menentukan bentuk dasar yang digunakan dalam proses reduplikasi yaitu : 1) pengulangan pada umumnya tidak mengubah bentuk dasar bagi kata ulang; tidak mengubah golongan kata ; bentuk dasar verba = bnetuk dasar verba, 2) bentuk dasar selalu berupa satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa misalnya, pada bentuk kemerah-merahan, keputih-putihan, kehijau-hijauan dan kehitam-hitaman.

Chaer (1993: 91-93) mengatakan bahwa, reduplikasi adalah pengulangan bentuk bentuk dasar sehingga menghasilkan ulang, baik berupa kata maupun prakategorial. Misalnya : bentuk prakategorial sia dan gara dalam konstruksi : sia-sia dan gara-gara.

Mengenai macam reduplikasi itu sendiri dibagi menjadi empat bagian : 1) pengulangan keseluruhan, 2) pengulangan sebagian, 3) pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, dan 4) pengulangan dengan disertai perubahan fonem.

Proses reduplikasi memiliki beberapa fungsi yaitu :

a) untuk menegaskan arti

b) untuk memperlihatkan ciri-ciri struktur suku kata

c) sebagai alat mpembentuk kata.

Durie (1985) membedakan beberapa jenis reduplikasi menjadi:

1) Reduplikasi mengeraskan arti atau penekanan. Bentuk ini memiliki tipe :

a) nomina l(setia) misalnya kata, anak dalam kalimat : “anak-anak dipersilahkan bermain di luar”,

b)  nominal (kontras) misalnya dalam kalimat : “teman-teman bisa marah”,

c) nominal (tidak tentuk) misalnya dalam kalimat : “bapak akan pergi kapan-kapan”

d) preposisi : kontras terhadap frasa nominal dari preposisi misalnya dalam kalimat : “dia pergi juga ke dalam gua-gua”,

e)  kata keterangan (penekanan) misalnya dalam kallimat : Ia makan nasi itu panas-panas”,

2) Reduplikasi pola fonologis: variasi antara dua bagian (dua morfem) dimana suku kata terakhir mengalami pengulangan, suku kata pertama + perubahan bunyi, -penekanan suku kata dapat bervariasi, dan dan variasi yang tidak beraturan.

3) Pengulangan suku kata.

Reduplikasi berbeda dengan repetisi. Repetisi adalah ulangan kata yang unsur-unsurnya tetap berdiri sendiri di antara unsur-unsurnya terdapat jeda. Hubungan antara unsur-unsur itu agak longgar sehingga mungkin disisipi bentuk lain . Repetisi tidak membentuk kata tetapi berfungsi memberi penegasan. Repetisi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) repetisi kata tidak dapat menunjukan salah satu tugas yang ditunjukan oleh kata ulang sebab repetisi kata digunakan untuk menekankan pembicaraan misalnya pada kata Bapak……….Bapak;

2) dapat disisipi oleh bentuk lain

3) repetisi kata terdiri atas dua unsur atau lebih sedangkan sedangkan reduplikasi tidak dapat disisipi bentuk lain ; misalnya : koran……koran bu;

4) repetisi dipisahkan dengan titik , titik koma; titik apabila unsur unsur repetisi tidak atau belum disisipi kata lain.

Data di bawah ini beberapa bentuk reduplikasi yang ada dalam BS :

3.3.1). Pengulangan Keseluruhan.

Contoh :

a). /seŋkataw-seŋkataw/ [seŋkataw-seŋkataw] ‘tiap-tiap orang’

b). / ∂lo-∂lo/ [∂lo-∂lo] ‘lari-lari’

c) ./ bale-bale/ [bale-bale] ‘rumah-rumah’

d). /h∂bi-h∂bi/ [h∂bi-h∂bi] ‘malam-malam’

3.3.2) Pengulangan dengan pembubuhan afiks

Contoh :

a) /mara+ reŋgihe/ [marareŋgihe?] ‘bagus-bagus’

b) /mara +huala / [marahuala] ‘gadis-gadis’

c) / mara + leno/ [licin-licin] ‘licin-licin’

d) /ma +pia/ [mapia-pia] ‘baik-baik’

Di samping contoh-contoh di atas ada juga beberapa data yang menunjukan pengulangan dalam bentuk yang berbeda dengan penyisipan fonem seperti di bawah ini :

a). /maŋa + uda/ [maŋaŋuda] ‘muda-muda’

b). /maŋaŋasu/ [maŋaŋasu] ‘anjing-anjing’

c). /maŋa + dario/ [maŋarario] ‘anak-anak’

formasi yang dapat dibuat berkenaan dengan ikhwal penyisipan konsonan /ŋ/ dalam proses reduplikasi ini yaitu:

Kaidah (8) menyatakan bahwa konsonan /ŋ/ ([+nasal, + bel]) akan disisipkan atau muncul apabila di awalai dengan prefiks /maŋa/ dan diikuti vokal /a/ ([+sil, +ren, + bel]) dan vokal /u/ ([ +ting, +bul, +bel])

3.3.3). Pengulangan disertai perubahan fonem

a). /ma + radiŋ/ [maradiŋ-dadiŋ] ‘rajin-rajin’

3.4 Pemajemukan BS

Kajian kata majemuk pada bagian ini hanya menyangkut realisasi sebuah msorfem yang berdekatan akibat terjadinya proses pemajemukan terutama yang menyangkut aspek morfologis dan fonologis dalam kaidah pembentukan kata. Beberapa contoh data untuk kata majemuk BS seperti di bawah ini :

a. / ∂lo + mat∂/ [∂lomat∂] ‘air mata’

‘hari +mata’

b. /bale +watu/ [balewatu] ‘penjara’

‘rumah +batu’

c. /g∂ŋgna + laŋi/ [g∂ŋgnalaŋi ] ‘Tuhan’

‘penguasa+langit’

Data-data di bawah ini juga memperlihatkan terjadinya proses pemajemukan dengan penyisipan fonem BS.

Contoh :

a./mat∂ + ∂lo/ [mat∂ŋlo] ‘matahari’

b. /mat + ake/ [matŋake] ‘mata air’

 

Kaidah (9) menyatakan bahwa konsonan / ŋ / akan disisipkan apabila diawali kata /mat∂/ dan diikuti oleh vokal /∂/ dan /a/ sebagai awal pada kata berikutnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan terhadap proses pembentukan kata bahasa Sangir dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

Pembentukan kata BS mengalami proses fonologis dan morfologis seperti, penambahan segmen, perubahan segmen, pemajemukan dan reduplikasi mengalami proses morfofonemik .

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa kaidah yang berkenaan dengan proses morfofonologi bahasa Sangir di antaranya sebagai berikut :

1) Penambahan segmen terdiri atas enam kaidah, meliputi :

  1. Penambahan segmen nasal /m/ ditambahkan apabila berada disisipkan apabila berada sesudah prefiks (n∂- dan s∂-) dan sebelum konsonan /p/ dan konsonan /b/ .
  2. Penambahan /n/ ditambahkan setelah prefiks/ma-/ dan /s∂-/ yang diikuti oleh konsonan /d/.
  3. Penambahan segmen / ŋ/ setelah prefiks/ m∂/ yang diikuti oleh vokal /o/ dan prefiks /n∂/ yang diikuti oleh vokal /a/ dan /i/ serta prefiks /ma/ yang diikuti oleh vokal /a/ dan vokal /o/.
  4. Penambahan segmen /ŋ/ akan disisipkan atau muncul apabila di awalai dengan prefiks /maŋa/ dan diikuti vokal /a/ dan vokal /u/ ([ +ting, +bul, +bel]).
  5. Penambahan segmen / ŋ / akan disisipkan apabila diawali kata /mat∂/ dan diikuti oleh vokal /∂/ dan /a/ sebagai awal pada kata berilutnya.

2) Perubahan Konsonan terdiri atas enam kaidah :

a. Perubahan fonem konsonan /b/ akan berubah menjadi konsonan /m/ apabila diawali oleh prefiks / m∂/ dan segmen bunyi yang mengikuti segmen bunyi yang berubah adalah vokal /u/ dan vokal / ∂ / serta prefiks /pa/ yang diikuti oleh vokal /o/ .

b. Perubahan fonem konsonan /p/ akan berubah menjadi /m/ apabila diawali oleh prefiks /ma/ dan diikuti oleh segmenbunyi awal /a/ dan /e/.

c. Perubahan konsonan /b/, akan berubah menjadi /w/ apabila: 1) diawali oleh prefiks /na/ dan diikuti oleh vokal /u/ dan /∂/ ; 2) di awali oleh prefiks /ni/ dan diikuti oleh vokal /u/.

d. Perubahan konsonan /s/, akan berubah menjadi konsonan /n/ apabila : 1) diawali oleh prefiks /na/ dan diikuti oleh vokal /u/ dan vokal /i/ ; 2) diawali oleh prefiks /n∂/ dan diikuti oleh vokal / e/ dan /a/.

e. Perubahan konsonan /t/ akan berubah menjadi konsonan /n/ apabila diawali oleh prefiks /m∂/ dan diikuti oleh vokal /i/ dan vokal /a/.

  1. Perubahan konsonan /d/ akan berubah menjadi konsonan /r/ apabila diawali oleh prefiks /ni/ dan diikuti oleh vokal /e/ dan vokal /u/.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akmajian, dkk. 1990. An Introduction to Language and Comunication.(third Edition). Cambridge, Massachussets: The MIT Press.

Alwasilah, C. 1993. Sosiologi Bahasa. Bandung :PT. Angkasa.

Aronoff , Mark dan Fudeman K, 2005. What is Morphology?.Malden : Blackwell Publishing.

Bawole, George dkk 1971. Struktur Bahasa Sangir . Laporan Penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Manado.

Bloomfield , Leonard .1933. Language. London: George Allen & Unwin Ltd.

Bybee, Joan L .1988. Morphology and Lexical Organisation. San Diego : Academic Press. Inc.

Culicover, Peter W.1976 .Syntax .New York : Academic Press

Dineen , Fracis, P.1967. An Introduction to General Linguistics.New York : Holt, Rinehart & Winston.

Dressler, Wolfgang U. 1985. Morphophonology. : The Dynamics of Derivation. Ann Arbor : Karona Publisher, Inc.

Fromkin, Victoria, dkk 1990. An Introduction to Language. Sydney : Holt, Rinehart, and Winston.

Haspelmath, Martin. 2002. Understanding Morphology.New York : Oxford University Press.

Hyman, Larry, M. 1975. Phonology, Theory ans Analysis. California : Holt, Rinehart and Winston.

Jufrizal, 1996. Morfofonemik Bahasa Minangkabau Dialek Padang Area. Tesis Untuk Program Magister Linguistik Universitas Udayana.

Katamba , Francis .1993. Morphology.London : Macmillan Press.

Koentjaraningrat. 1980.Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta : PT. Dian Rakyat.

Malmkjaer, Kirstein .1991. The Linguistic Encyclopaedia.London : Clays Ltd. St. Ives Plc.

Matthews, P.H. 1978. Morphology : An Introduction to the Theor of Word Structure.

Nida, Eugene A. 1949. Morphology : The Descriptive Analysis of Word. Ann Arbor : The University of Michigan Press.

Parera, Jos Daniel. 1988. Morfologi. Jakarta : PT. Gramedia

Pastika, Wayan I. 1994. Proses Fonologis Melampaui Batas Leksikon : Jurnal Ilmiah Linguistika Program Studi S2 dan S3 Lingusitik Universitas Udayana.

Pastika, Wayan I, 2004.Deskripsi Bunyi Bahasa dan Perubahannya: Model Tagmemik, Generatif dan Sinfonologi . Jurnal Ilmiah Linguistika Program Studi S2 dan S3 Lingusitik Universitas Udayana.

Pastika, Wayan I 2004 Sinfologi : Interaksi Sintaksi dan Fonlogi . Jurnal Ilmiah Linguistika Program Studi S2 dan S3 Lingusitik Universitas Udayana.

 

Pikeert and Pikeert A.1995 First Look At Tidore Phonology dalam NUSA bagian II (Descriptive Studies in Languages of Maluku). Jakarta : Lembaga Bahasa Universitas Katolik Atmajaya.

 

Ramlan , M. 1990. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta : CV.Karyono.

 

Salea-W, dkk. 1977. Penelitian Bahasa di Sulawesi Utara. Manado: Laporan Penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Schane, Sanford A . 1992. Fonologi Generatif. Jakarta: Summer Institute of Linguistics.

 

Silangen-Sumampouw. Morfologi dan Sintaksis Bahasa Sangir. Manado : Laporan Penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Sneddon 1991 Balantak Phonology And Morphophonemics dalam NUSA bagian II (Studi in Sulawesi Linguistics). Jakarta: Lembaga Bahasa Universitas Katolik Atmajaya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: