3 HARI 3 MALAM BERBANDING 2 JAM

Sebuah pesawat terbang kecil berputar-putar mencari landasan di tengah-tengah rimba belantara Kalimantan. Sesaat kemudian, pesawat menukik dan mendarat dengan hati-hati. Sang pilot turun, disusul satu-satunya penumpang — seorang hamba Allah yang diundang ke daerah itu untuk menyampaikan Kabar Baik dari surga. Orang ini agak terkesiap menatap rombongan laki-laki yang rupanya telah berkumpul menyambut kedatangannya. Ketua rombongan maju memperkenalkan diri, dan setelah saling berjabat tangan, mereka pun mulai berbincang-bincang.

“Berapa jumlah penduduk desa Bapak?” tanyanya berbasa-basi kepada ketua rombongan.

“Ini semua kepala keluarganya Pak Pendeta,” jawab lelaki setengah usia itu sambil menunjuk pada rombongan penyambut.

Termangu-mangu, pak pendeta itu mendengarkan keterangan ini. Diam-diam dihitungnya orang-orang yang mengelilinginya. Hanya tiga puluh kepala! Tanpa disadarinya, terlintas dalam ingatannya gedung pertemuan yang mahaluas di Ottawa, Kanada, yang memuat lima ribu orang, yang menjadi penuh sesak tatkala mereka berdatangan untuk mendengarkan firman yang disampaikannya. Itu baru beberapa minggu yang lalu.

“Mari, Pak,” kata ketua rombongan dengan ramah sambil membuat gerakan tangan, mempersilakannya berjalan. “Baik,” katanya. Tebersit dalam hatinya, sebuah harapan, semoga jarak yang kini harus ditempuhnya dengan berjalan kaki, tidaklah terlalu jauh. Ternyata harapannya buyar. Mereka meninggalkan landasan pesawat itu, dan memasuki hutan rimba. Tak terpikirkan betapa mengerikan rimba itu! Hujan yang turun telah menciptakan kubangan-kubangan Lumpur yang bercampur daun-daun membusuk. Bau yang menyebar dari kubangan-kubangan tersebut sungguh memuakkan! Di sana-sini tampak gundukan kotoran hewan, entah binatang liar ataukah hewan peliharaan penduduk. Di kiri kanan jalan setapak, tirai tebal daun-daun serta sulur-suluran membuat orang enggan menyimpang sedikit pun dari jalan setapak itu.

Jalan ternyata berliku-liku, turun naik bukit pula! Udara panas luar biasa, sekalipun sinar matahari hampir tak tampak dalam rimba yang pekat itu. Dalam sekejap saja, tubuhnya sudah mulai memprotes siksaan yang tak terduga-duga itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut nyeri. Kaki bagaikan dibebani berkilo-kilo. Rongga dada serasa hendak meledak, menahan napas yang memburu sehingga menimbulkan desah yang ramai pula. Matanya mulai berkunang-kunang. Langkahnya pun sudah terhuyung-huyung dengan kepala merunduk berat. Ia benar-benar membutuhkan istirahat. Tetapi baru saja ia hendak minta kepada pengantarnya agar mereka berhenti dulu, telinganya menangkap suara orang ramai.

Ia mengangkat kepala. Mereka berada di puncak sebuah bukit. Di bawah terhampar pemandangan yang membuatnya terharu. Beratus-ratus … tidak, beribu-ribu orang laki perempuan tampak hiruk-pikuk membuat barisan panjang menuju sebuah “rumah adat”.

“Mereka … ?” tanyanya heran pada pengantarnya.

“Ya,” jawab yang ditanya, “mereka tahu Bapak akan datang. Mereka datang dari kampung-kampung yang tersebar di wilayah yang luas. Ada di antara mereka yang berjalan 3 hari 3 malam untuk berbakti bersama-sama.”

3 hari 3 malam! Ia melihat, jam tangannya menunjukkan bahwa mereka sendiri berjalan tak lebih dari 2 jam.

Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ia membayangkan perasaan yang mencekam diri Tuhan Yesus tatkala dilihatnya “orang banyak dating berbondong-bondong”. Kehausan jiwa yang mencari kebenaran pada masa itu, sekarang pun masih begitu menonjol. Dan ini lebih dirasakannya lagi ketika kebaktian dimulainya. Suara-suara yang menaikkan puji-pujian dalam aneka nada memang jauh daripada indah, namun mampu menggugah hatinya kepada suatu kesadaran yang lebih mendalam, bahwa Kasih Tuhan ada di mana-mana. Jiwa-jiwa di kota gemerlapan atau di rimba belantara, sama di mata Tuhan. Tetapi kasih kepada Tuhan, kiranya tiada yang melebihi kasih yang ada di dalam hati manusia penghuni rimba ini. Murni dan teguh, demikianlah iman yang membuat mereka itu menjadi “indah”.

Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul buku: Untaian Mutiara; Penulis: Betsy T.; Penerbit: Penerbit Gandum Mas, Malang; Halaman: 116 — 118

%d bloggers like this: