Kekristenan dan Ilmu-ilmu Alam

oleh: Ev. R. B. G. Steve Hendra, S.T., M.Div.

Banyak orang berkata dewasa ini, bahwa ada suatu jurang raksasa antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, yang tidak mungkin dijembatani oleh siapa pun. Jurang ini menurut mereka sangat besar, khususnya jika kita berbicara tentang ilmu-ilmu alam. Dibandingkan Agama semua yang ada dalam ilmu-ilmu alam nampak begitu jelas dan tertentu. Maka jika semua sudah begitu pasti, apa perbedaan yang dapat kita buat dengan Kekristenan? Apakah kita Kristen, Islam, Buddha atau bahkan Ateis, hal itu tidak ada pengaruhnya dalam ilmu-ilmu alam. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, tidak tergantung apakah kita seorang Kristen atau bukan. Tetapi apakah benar, bahwa Agama tidak ada perannya dalam ilmu-ilmu alam? (Pada tulisan ini saya membatasi diri hanya pada Kekristenan, khususnya pada Theologi Reformed, yang saya dalami. Alasannya adalah ada banyak agama dan theologi yang saya tidak di dalamnya).

Di sini kita harus pertama-tama menjelaskan arti dari beberapa ungkapan, sebelum saya dapat menunjukkan posisi saya dan menjawab pertanyaan tersebut. Setelah saya memberikan jawaban saya, saya akan menyatakan ide integrasi saya antara Kekristenan dan ilmu-ilmu alam.

Sebelum saya mulai, ijinkan saya mengajukan pertanyaan yang bagi saya mengganggu. Pertanyaanya adalah sebagai berikut: Jika memang benar bahwa agama tidak mempunyai peran dalam ilmu-ilmu alam, mengapa banyak ilmuwan yang ateist mengambil posisi religius sebagai Ateist? Dan mengapa mereka harus memperjuangkan posisi religiusnya dalam ilmu-ilmu alam? Jika tidak ada relasi antara keduanya, mengapa mereka melakukannya? Di sini saya cuma mencoba menunjukkan bahwa anggapan tersebut adalah suatu kesalahan. Ada suatu relasi yang penting diantara keduanya. Tapi relasi seperti apa? Kita akan membicarakannya dan saya menyumbangkan ide saya untuk menyelesaikan masalah ini.

I. Penjelasan dari Ungkapan-ungkapan

Ilmu Pengetahuan. Ilmu pengetahuan kita mengerti sebagai suatu Disiplin, yang mengandung banyak data dan memahaminya dalam suatu relasi tertentu, untuk menjelaskan realitas. Untuk tujuan ini orang menggunakan di dalamnya banyak anggapan, teori, paradigma, dll. Ilmu pengetahuan berkembang melalui suatu prosedur tertentu, yang disebut metode ilmiah. Ilmu pengetahuan membatasi diri pada bidangnya. Karena pengertian-pengerti an ini orang dapat mengatakan bahwa suatu teori dalam suatu ilmu pengetahuan lebih baik, (1) jika dia dapat menjelaskan banyak kejadian, (2) jika dia dapat meramalkan banyak kejadian yang akan terjadi di masa datang, dan (3) jika dia dapat dikembangkan.

Teori. Teori adalah suatu formulasi penjelasan terhadap suatu kenyataan tertentu yang dibangun secara sengaja dalam ilmu pengetahuan. Suatu teori mengaju pada suatu tahap penjelasan tertentu, yang kebenarannya sudah diuji melalui cara tertentu, yaitu Metode Ilmiah. Jika Axioma karena mengacu pada suatu kenyataan sederhana yang bersifat teruji dengan sendirinya, sebaliknya untuk menjelaskan kenyataan yang rumit orang harus memformulasikan teori dan mengujinya. Untuk membangun teori, orang tidak dapat berurusan dengan data-data saja, melainkan logika, worldview dan semangat zaman memainkan peranan penting di dalamnya. Suatu teori lebih pasti daripada hipotesa tetapi kurang pasti jika dibandingkan hukum atau axioma.

Paradigma. Suatu teori, yang dibangun dan diterima, tergantung juga pada paradigma-pradigma yang berlaku dalam ilmu pengetahuan tersebut. Paradigma pada dasarnya juga adalah teori, yang kebenarannya sudah diterima secara luas.

Alam. Alam dimengerti para ilmuwan sebagai suatu kombinasi dari hukum-hukum, yang sudah pasti dan berlaku untuk menata semua kenyataan dalam alam semesta. Tetapi jika mereka mendapati sesuatu yang tidak taat kepada hukum tadi, mereka menyebutnya “kenyataan.” Di sini jelas bagi kita, bahwa kenyataan dan alam di kalangan ilmuwan berbeda, dan arti dari kata “kenyataan” lebih luas daripada arti dari kata “alam.” Hal ini perlu diperhatikan di sini.

Agama. Agama bagi saya adalah kata yang mempunyai beberapa arti. “Agama” dapat mengacu pada Institusi yang memiliki kitab suci, nabi, pengikut yang percaya, dll. Pengertian lain dari kata tersebut adalah suatu iman yang dipegang kuat dan menurutnya seseorang mengarahkan hidupnya. Ateisme termasuk juga dalam pengertian yang kedua. Jika saya mengatakan bahwa saya adalah seorang Kristen, maka kalimat saya mengacu pada pengertian kedua dari kata “agama.” (Saya juga mengerti disini, bahwa jika saya seorang Kristen, maka saya termasuk dalam bagian dari Kekristenan sebagai suatu Institusi.) Iman kepercayaan tersebut bagi theologi Reformed berasal dari sense of divinity, yang dimiliki semua manusia sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar Allah. Tidak ada orang yang dapat hidup tanpa kepercayaan seperti itu.

II.     Jawaban dari Pertanyaan

Pertanyaannya di sini berbunyi, Apakah ada suatu relasi antara agama dan ilmu alam. Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan membatasi diri pada pengertian kedua dari kata “Agama.” (Saya akan membicarakan tentang pengertian yang pertama pada edisi yang lain).

Jika seandainya dalam ilmu-ilmu alam hanya mengenai axioma-axioma, mungkin akan tidak ada perbedaan apakah kita Kristen atau bukan. Air di tempat yang rata akan cenderung mengalir ke tempat yang lebih rendah, apakah kita Kristen atau bukan. Tetapi dalam kenyataannya ilmu pengetahuan tidak hanya berkenaan dengan axioma, tetapi juga teori-teori, paradigma-paradigma , dll, untuk menjelaskan realitas. Saya sudah mengatakan di atas, bahwa pembangunannya tidak netral, melainkan berpihak pada berbagai aspek, yang terdiri dari iman kepercayaan, worldview, tujuan, dll. Di sini para ilmuwan tidak hidup dalam Getto, melainkan dalam suatu masyarakat, yang di dalamnya mereka saling bertukar hal-hal tersebut dengan anggota masyarakat yang lain.

Sebenarnya sudah jelas, bahwa ilmu-ilmu alam hanya dapat memberikan penjelasan dari kenyataan-kenyataan menurut bidangnya masing-masing. Maka penjelasan mereka tidak pernah sama kuatnya dengan kenyataan-kenyataan tersebut, maka orang membutuhkan penerapan dari semua ilmu supaya berfungsi dengan baik dalam kehidupan kita. Selanjutnya kita juga harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan tentang arti dari hidup, moralitas, atau semua pertanyaan metafisik, misalnya mengapa ada suatu aturan demikian dalam alam semesta?, dll. Pertanyaan-pertanya an ini terkait erat dengan kemanusiaan (sebagai ciptaan menurut gambar Allah, yang dilengkapi dengan karakter “makna” – menurut theologi Reformed) dan religiusitas kita. Jika sejarah ilmu pengetahuan alam diamati dengan seksama, sebenarnya orang dapat melihatnya. Untuk itu saya akan memberikan beberapa contoh di sini:

1.            Pada zaman dahulu manusia mengembangkan ilmu-ilmu alam menurut kebutuhan masyarakat. Baik untuk penggunaan praktis maupun religius orang melakukan penelitian, penemuan dalam ilmu pengetahuan. Mereka melakukannya dengan asumsi yang berlaku saat itu, yang oleh kebanyakan dari kita dipandang sebagai Mitos, misalnya, walaupun mereka sudah mengetahui bahwa bumi berbentuk bola orang Yunani tetap berpikir, bahwa ada seorang raksasa yang menopangnya dan dewa-dewa lainnya, sehingga manusia harus bertingkah menurut cara tertentu. Apa yang dapat kita saksikan di sini adalah kenyataan, (1) bahwa ilmu-ilmu alam sejak dari mula tidak dikembangkan dalam Getto, (2) bahwa manusia tidak hanya puas dengan hasil-hasil keilmuan, yang dapat menjelaskan kenyataan-kenyataan secara satuan, melainkan mereka berusaha juga untuk menjelaskan seluruh realitas, walaupun untuk itu mereka harus berspekulasi dengan penjelasan-penjelas an metafisis. (Banyak ilmuwan ateis pun setuju akan hal ini, walaupun mereka juga mengatakan bahwa penjelasan-penjelas an metafisis tersebut harus ditukar dengan penjelasan-penjelas an keilmuan.), (3) bahwa orang menentukan bidang-bidang lain dalam kehidupan manusia, misalnya Etika, Estetika dll., melalui suatu worldview yang merupakan pemahaman terhadap realitas yang utuh.

2.            Dalam dunia modern, dimana dapat dikatakan, bahwa banyak mitos yang sudah ditukar dengan penjelasan-penjelas an keilmuan, toh muncul melaluinya banyak mitos baru, misalnya: Keutamaan rasio, alam yang bersifat mekanis, ateisme, dll. Kita dapat melihat bahwa tiga kenyataan tersebut sebenarnya tidak berubah. Tanpa konsep metafisik orang tidak dapat memahami seluruh kenyataan dalam realitas. Untuk hidup manusia membutuhkan bukan hanya memahami alam, melainkan juga kenyataan, supaya mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam hidupnya. Mitos-mitos modern yang baru tersebut memainkan peranan yang besar dalam worldview modern, dan menyebabkan munculnya etika modern, perang modern, eksistensialisme hingga postmodernisme. Saya telah memberikan 2 contoh dari sisi masyarakat, sekarang saya ingin juga memberikan suatu contoh dari seorang ilmuwan.

3.            Einstein adalah seorang Ilmuwan modern, yang teorinya menyebabkan lahirnya teori baru yang berkontradiksi dengan worldviewnya yang modern. Dengan pernyataannya “Allah tidak bermain dadu” (1926) dia mempertahankan asumsi-asumsinya terhadap kemunculan teori Kuantum, bahwa alam semesta bersifat panteis dan determinis dan bahwa teori bukan hanya suatu penafsiran dan model dari realitas, melainkan suautu penjelasan yang sejati yang sekuat dan sama dengan hukum-hukum yang berlaku di dalam alam. Asumsi-asumsinya ini dapat ditelusuri dari worldview modern yang berasal dari pembacaan modern1 dari buku “Discours de la Methode” dari Rene Descartes. Untuk memahami konsep Einstein tentang alam secara lebih baik kita juga harus memahami buku “Ethik in geometrischer Ordnung dargestellt” dari Spinoza, karena Einstein mengembangkan konsepnya tentang Alam menurut jalur Spinoza. Pengakuannya pada tahun 1934 kepada Spinoza: “Keyakinan yang terkait dengan perasaan yang mendalam akan suatu nalar yang dipertimbangkan, yang menyatakan diri dalam dunia yang dapat dialami, membentuk pengertian saya tentang Allah; orang dapat mengatakannya juga dalam pengungkapan yang umum sebagai pantheis (Spinoza).”2 Walaupun Einstein seorang Yahudi, Allah yang tidak bermain dadu bukan Allah Abraham, Ishak dan Yakub, melainkan suatu kesimpulan dari pemikiran filsafat, yang seharusnya menjamin kedapat dipahamian alam, menurut Einstein terutama determinisme kausal. Di sini kita dapat melihat sesuatu, bahwa bagi Einstein pun ilmu pengetahuan alam, terutama fisika, bukan hanya berkenaan dengan axioma-axioma, melainkan juga suatu iman kepercayaan, asumsi-asumsi, dll. Iman kepercayaan dan asumsi-asumsi lain tersebut mengarahkan pemahaman seorang ilmuwan tentang kenyataan dalam realitas. Di sini Einstein mengkuatirkan, bahwa tanpa Allah yang demikian tidak ada jaminan apakah esok matahari masih akan terbit. Tanpa jaminan demikian maka apa yang menjadi jaminan ilmu pengetahuan akan ketepatan teori-teorinya?

Dari contoh-contoh yang diberikan kita dapat memahami mengapa para ilmuwan memperjuangkan posisi religius mereka itu. Apa yang sebenarnya terjadi adalah kenyataan bahwa tanpa asumsi-asumsi religius seperti itu pemahaman akan realitas tidak mungkin. Orang tidak dapat mengkaitkan data-data dan axioma-axioma tanpanya, untuk menghasilkan suatu pemahaman. Pemahaman bukan hanya masalah data dan axioma, melainkan relasi antaranya. Melaluinya manusia mengerti bukan hanya apa makna kehidupan, apa yang harus dilakukan dalam kehidupan, melainkan juga apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan, bagaimana mengembangkannnya lebih lanjut, bagaimana dan di mana manusia menempatkannya dalam kehidupan, dll.

Jika ada suatu relasi yang erat antara ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan alam dan iman, seperti apa relasi tersebut seharusnya? Tidak dapatkan seseorang sekadar mengambil suatu jenis dari relasi-relasi yang ada? Jika saya mengambil suatu relasi, apakah ada akibat teoritis ataupun praktis dalam kehidupan saya? Jika tidak, maka kita dapat sekadar mengambil suatu jenis relasi, yang kita sukai, Tetapi jika ya, maka kita seharusnya dengan hati-hati memilih di antara yang ada, satu untuk diambil.

Relasi tersebut tergantung pada jenis iman yang dimiliki si ilmuwan. Relasi tersebut berbeda-beda menurut worldview yang digunakan ilmuwan untuk memandang segalanya, misalnya, seorang ilmuwan ilmu alam yang ateis, yang percaya bahwa tidak ada Tuhan, akan berpikir bahwa tidaka da relasi ontologis antara ilmu alam yang dia pelajari dan makna hidupnya. Relasi baginya bersifat praktis, bahwa dia menyukainya dan bekerja dan berkarier. Jika seandainya ada suatu relasi teoritis, alasannya adalah semua manusia melakukannya. Dia akan beranggapan bahwa suatu hukum universal yang berlaku dalam alam dan tugas dari ilmu alam adalah menemukannya. Tetapi darimana hukum itu berasal, mengapa hukum itu demikian, dll., tidak perlu dipertanyakan, Masalah utama yang ada ini menyebabkan dia menjual sifat kesejarahan dari ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu alam tidak dikembangkan dalam Getto, melainkan dalam suatu konteks sosial. Bagaimana penggunaannya? Apa yang boleh dan seharusnya diteliti?, dll. Pertanyaaan- pertanyaan ini tetap akan menjadi pertanyaan-pertanya an praktis yang tidak mempunyai kekuatan ontologis. Orang harus mentaatinya karena hukum, karena pelanggar akan dihukum. (2) Keutuhan realitas akan tetap tidak terpahami. Walaupun akan selalu ada penemuan ilmu pengetahuan yang baru, toh pertanyaan-pertanya an berikut tetap tidak terjawab, Apakah sebenarnya manusia itu? Apa makna dari hidup seorang manusia? dll., Apa yang dapat dikerjakan adalah mengabaikan pertanyaan-pertanya an tersebut dan mengatakan, bahwa tidak ada pertanyaan seperti itu. (3) Tetapi tanpa pertanyaan seperti itu tidak mudah untuk menyatukan kebenaran-kebenaran estetik, moral, etika, dll., (Mengenai kelemahannya saya tidak membicarakannya di sini.) Tetapi tentu saja dia dapat mengatakan, jika saya harus memikirakn semuanya, maka apa yang harus dikerjakan oleh para Filsuf, Sosiolog, ahli etika dan yang lainnya?

II. Suatu Ide Mengenai Integrasi Filosofis Antara Iman Kristen dan Ilmu-ilmu Alam

Setelah saya memberikan suatu contoh mengenai suatu relasi antara iman percaya dan ilmu-ilmu alam dari worldview ateis, saya akan membicarakan sekarang ide saya sendiri. Seperti yang telah saya katakan dari awal bahwa saya mewakili pandangan Kristen Reformed dan, sejujurnya, bangunan ide saya tentu saja bergantung pada isi iman dan worldview saya. Tetapi hal itu tidak berarti, bahwa saya tidak dapat memberikan pertanggungjawaban secara keilmuan. Mengingat tujuan dari karangan ini saya tidak akan memberikan terlalu banyak penjelasan yang spesifik dan keilmuan.

Alkitab mulai dengan suatu kalimat yang berbunyi, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” dan selalu memaparkan bahwa Allah menjalankan providensi-Nya dalam sejarah manusia dan akan mengakhiri sejarah.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Melalui kalimat ini kita dapat memahami, bahwa ada dasar ontologis bagi ilmu-ilmu alam di sini. Karena ciptaan tidak berasal dari probabilitas, melainkan dari rencana Allah, maka tugas dari ilmu alam dapat dipastikan di sini, yaitu menyingkapkan hukum-hukum Allah yang berlaku dalam Alam. Di sini jelas bahwa tugas dan etika dari ilmu-ilmu alam adalah menyingkapkan dan bukan menetapkan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.

Karena alam (menurut makna di kalangan ilmuwan) juga direncanakan oleh Tuhan dan sama dengan alam (menurut makna yang normal), maka tidak dibutuhkan pembedaan antara “alam” dan “kenyataan,” seperti yang di mengerti dalam konteks ilmu-ilmu alam.3 (Pada konteks yang lain, tentu saja saya mengerti bahwa, “kenyataan” tidak hanya berarti terbatas pada fenomena-fenomena alam saja.) Apa yang harus diubah di sini adalah asumsi yang ada dibelakang kata tersebut, bahwa alam harus berjalan sesuai dengan hukum yang ditemukan oleh para ilmuwan ilmu alam. Tugas yang jelas ini seharusnya menyebabkan, misalnya, bahwa ilmu alam tidak dapat menolak mukjizat dan ilmuwan tidak perlu mengatakan bahwa “Allah tidak bermain dadu” atau “Allah bermain dadu.” Apa yang saya maksudkan di sini seharusnya di kalangan ilmuwan ada suatu keterbukaan terhadap suatu kenyataan yang baru dan menerimanya sebagai bagian dari alam.

Karena alam dicipta oleh Allah dan Allah, sang Pencipta, adalah Allah yang berpribadi dan tritunggal, maka alam, yang diciptakan, pasti merefleksikan ciri-ciri sang Penciptanya. Maka pertama-tama alam bukan hanya telah-ada (atau ada-begitu-saja) , melainkan ada-untuk,4 tepatnya, alam bukan hanya semata-mata ada, melainkan alam memiliki suatu makna, suatu fungsi, suatu konteks dan suatu tujuan sebagai sifatnya menurut rencana sang Penciptanya. Adalah kesalahan jika seseorang mengerjakan ilmu-ilmu alam seolah-olah mereka ada di dalam Getto. Kedua alam bukan hanya memiliki sifat one-and-many karena sifat one-and many dari sang Pencipta,5 melainkan juga sifat sosial, bahasa, dll. Maka bagaimanapun usahanya para ilmuwan tidak akan dapat menghilangkan ciri ilmu-ilmu alam tersebut, selama ilmu-ilmu alam masih berurusan dengan alam ciptaan Tuhan. Tiap kebenaran berkaitan satu dengan yang lain, dan usaha seperti itu hanya akan mengakibatkan abstraksi dan kontradiksi dari klaim-klaim keilmuan.

Hal ini juga tergantung pada manusia sebagai ciptaan tertinggi menurut gambar Allah. Kepada manusia tugas ini diberikan, untuk melayani dan menjaga alam.6 Karena manusia mirip Allah, manusia tidak dapat bekerja dalam Getto ketika mengembangkan ilmu-ilmu alam, apalagi dia adalah ciptaan yang bersifat sosial. Manusia harus tidak hanya demi kepentingan ilmu-ilmu alam saja menemukan hukum-hukum alam, melainkan juga untuk tujuan masyarakat, kemanusiaan dan tujuan tertinggi mempermuliakan Allah.

Di sini terdapat suatu kemungkinan, relasi dari semua aspekt kehidupan manusia teoritis dan tanpa kontradiksi dibangun dan menempatkan ilmu alam pada posisinya. Di sini terdapat pula kemungkinan untuk menentukan langkah praktis untuk mengembangkan keilmuan tanpa berkontradiksi dan mereduksi aspek-aspek kehidupan yang lainnya.

Dalam iman Kristen dijelaskan pula bahwa manusia telah jatuh di dalam dosa. Kenyataan ini saya mengerti sebagai kenyataan sejarah. Dosa saya mengerti sebagai perlawanan manusia melawan Allah, sang Penciptanya. Sekalipun dosa manusia Allah tetap memelihara ciptaan-Nya. Alam berfungsi menurut hukumnya dan tidak menjadi kacau. Disini masih ada kemungkinan untuk memperkembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia yang telah jatuh. Tetapi kemungkinan ini digunakan manusia melalui ilmu-ilmu alam untuk melawan Allah, sang Pencipta dan Penopang. Memang tidak ada yang dapat berbicara tentang etika yang bersifat universal, jika seandainya Allah yang berpribadi tidak ada. Worldview Kristen menceritakan kepada kita bukan hanya apa yang terjadi, melainkan juga tugas dari anak-anak Tuhan yang berurusan dengan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu alam, yakni, menebus ilmu-ilmu alam demi kepentingan Allah.

Catatan kaki:

1.         Pembacaan modern, yang dewasa ini berlaku di kalangan ilmuwan, sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang Rene Descarte maksudkan. Pembacaan modern tidak memperhatikan “Meditationes de Prima Philosophia.” Memang penekanan Descartes pada penggunaan rasio dan teori matematikanya melalui pembacaan modern ini dapat mengakibatkan orang mudah berpikir bahwa sekalipun Allah adalah Pencipta alam semesta, tetapi kuasanya dibatasi oleh hukum-hukum alam, atau lebih kecil daripada hukum-hukum alam tersebut. Berangkat dari sinilah muncul deisme dan konsep-konsep modern yang salah tentang Allah.

2. Dikutip oleh Dieter Hattrup dalam Einstein und der würfelnde Gott: An den Grenzen des Wissens in Naturwissenschaft und Theologie, ( Freiburg : Herder, 2008), hlm. 19, dari Einstein, Albert., Mein Weltbild (1934). diterbitkan. Carl Sellig (Frankfurt u.a.: Ullstein, 1970), hlm. 201, 171.

3.         Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang hal ini. Dalam perdebatan kami, teman saya mengatakan bahwa itu adalah problem semantik semata yang tidak perlu dipandang serius. Dalam diskusi tersebut saya mengajukan suatu contoh bahwa problem semantik bukan masalah remeh, melainkan suatu penipuan. Jika seseorang membeli daging, dan berkata kepada si penjual bahwa dia ingin membeli daging, lalu si penjual memberikan daging tikus kepadanya. Apakah yang akan dilakukan oleh orang tersebut? Bukankah dia akan merasa dipermainkan dan marah, walaupun daging tikus adalah daging juga. Tetapi dalam hal ini banyak orang senang menikmati penipuan.

4.         Perbedaan antara “telah-ada” atau “ada-begitu-saja” (“vorhanden”) dan “ada-untuk” (“zuhanden”) dapat ditelusuri dari konsep dari Heidegger (Sein und Zeit). Tetapi di sini saya membuat suatu perubahan makna dan konteks. Perubahan tersebut adalah, pertama, Konteks dari kata tersebut berubah dari sifat-keduniaan- dunia-di- hadapan-manusia- sebagai-Dasein menjadi Situasi-ontologis- di-hadapan- Tuhan (von der Weltlichkeit der Welt vor den Menchen als Dasein zum ontologischen Zustand vor dem Gott). Catatan khusus bagi edisi Indonesia : ide keduniaan di sini bukan berarti sekuler, apa yang dibicarakan Heidegger tidak ada kaitan sama sekali dengan sakral dan sekuler! Kedua, Maknanya berbicara bahwa pada mulanya tidak ada yang telah-ada di hadapan Tuhan, karena dia adalah Sumber dari segalanya, bukannya ada-perbedaan- tersebut- bagi-manusia.

5.         Problem one-and-many dapat diselesaikan oleh para theolog Van Tillian, melalui mereka menelusuri ke Kesempurnaan Allah Tritunggal. Tetapi tetap tinggal pertanyaan bagaimana hal itu seharusnya berfungsi, jika alam ciptaan memang one-and-many?

6.         Terjemahan ini berasal dari kata-kata Ibrani “abad” dan “Shamar.” Kata-kata ini dalam penggunaannya oleh Musa menunjukkan kepada kita, bagaimana manusia harus menjalankan jabatannya sebagai mahkota ciptaan, yakni, pemimpin adalah pelayan.

Profil Ev. Steve Hendra:

Ev. Steve Hendra, S.T., M.Div. dilahirkan di Surabaya pada tahun 1976. Menerima Kristus pada tahun 1996 dan mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1997.

Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 umum pada tahun 1999, melanjutkan pendidikan di Institut Reformed Jakarta dan mendapatkan gelar Master of Divinity (M.Div.) pada tahun 2003.

Mulai bulan Agustus 2003 melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Surabaya – Andhika serta sebagai dosen di Sekolah Theologi Reformed Injili Indonesia Surabaya (STRIS) Andhika dan International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS). Saat ini, beliau sedang studi di Jerman.

“Your love must be without hypocrisy. Abhor what is evil; cling to what is good.”

(Romans 12:9; International Standard Version)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: