ANALISIS KEKELIRUAN BERBAHASA PADA PENDERITA AFASIA BROCA PASCASTROKE: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK
Lilis Hartini, Dadang Sudana, Syihabuddin
ABSTRAK
Afasia Broca adalah hilangnya kemampuan untuk memproduksi atau memahami bahasa. Hal ini disebabkan lesi kortikal di otak kiri, tepatnya di daerah broca, yang mengkhususkan diri dalam tugas-tugas pemproduksian bahasa. Penderita stroke yang terkena afasia broca sangat jarang berbicara spontan, hilangnya kemampuan dalam mengujarkan atau menirukan ujaran-ujaran bunyi vokal, berbicara dengan susunan kalimat yang tidak runtun, seringkali mensubstitusi kata-kata dengan suara yang mirip namun pengertiannya terhadap bahasa tidak terganggu. Afasia broca memiliki karakter tersendiri bila dibandingkan dengan afasia sensorik. Karakter tersebut ditandai dengan cara berbicara yang sulit, sehingga kata-kata yang dikeluarkan sedikit.
Gejala utama pada penderita afasia broca adalah kesulitan dalam bertutur yang dapat terjadi dalam berbagai derajat keparahan. Penelitian ini sengaja dilakukan untuk mengungkap derajat keparahan gangguan berbahasa yang diderita seorang informan, penderita afasia. Terutama dari segi linguistiknya.
Hasil penelitian terhadap penderita afasia broca adalah terjadinya gangguan berbahasa dalam beberapa segi linguistik, yaitu gangguan fonologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Akan tetapi, hasil kajian psikolinguistiknya adalah informan mengalami lebih banyak gangguan dari segi makna leksikalnya dan salah satu cara menyiasatinya dengan gesture.
Kata Kunci: Afasia broca, produksi bahasa, strategi leksikal
A. PENDAHULUAN

Komunikasi akan berjalan lancar apabila pesan yang disampaikan penutur dapat dimengerti oleh mitra tuturnya. Jika tidak terjadi demikian maka ada gangguan dalam komunikasi. Gangguan komunikasi adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya. Hal ini mungkin dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit. Salah satu gangguan berbahasa dialami oleh para penderita afasia. Afasia adalah gangguan kemampuan berbahasa. Para penderita afasia dapat mengalami gangguan berbicara, gangguan dalam memahami sesuatu, gangguan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Penyebab afasia selalu berupa cedera otak. Pada kebanyakan kasus, afasia dapat disebabkan oleh pendarahan otak. Oleh para dokter, pendarahan otak disebut CVA: Cerebro Vasculair Accident atau Kecelakaan Vaskuler Otak.
AIA (2011) telah memberitahukan kepada masyarakat bahwa para penderita afasia dapat mengalami kesulitan akan banyak hal. Hal-hal tersebut sebelumnya merupakan sesuatu yang biasa terjadi di kehidupannya sehari-hari, seperti: melakukan percakapan; berbicara dalam grup atau lingkungan yang gaduh; membaca buku, koran, majalah atau papan petunjuk di jalan raya; pemahaman akan lelucon atau menceritakan lelucon; mengikuti program di televisi atau radio; menulis surat atau mengisi formulir, bertelepon, berhitung, mengingat angka, atau berurusan dengan uang; juga menyebutkan namanya sendiri atau nama-nama anggota keluarga. Penderita afasia mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa, tetapi mereka bukan orang yang tidak waras.
Kebanyakan penderita afasia mendapati kehidupan mereka berbeda sama sekali. Hal-hal yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah, sekarang dilakukan dengan susah payah dan membutuhkan lebih banyak waktu. Banyak penderita afasia tidak percaya diri dan khawatir akan masa depannya. Oleh karena itu, bantuan dan dukungan dari lingkungan mereka merupakan hal yang sangat penting. Bertemu dengan penderita afasia lainnya juga membantu. Para penderita afasia bahkan dapat memahami satu sama lain tanpa kata-kata.
AIA (Association Internationale Aphasie) adalah sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang afasia, yang sudah terbentuk di Eropa. Organisasi ini terdiri dari wakil-wakil asosiasi afasia nasional, khususnya di Eropa, tetapi juga di Amerika Serikat, Jepang, dan Argentina. Banyak informasi yang didapat tentang afasia dari organisasi ini salah satunya adalah AIA mengilustrasikan penderita afasia sebagai berikut: banyak orang mengalami frustrasi saat berlibur di negara lain. Frustrasi tersebut berasal dari ketidakmampuan mengungkapkan dengan jelas apa yang mereka maksudkan atau tidak sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain. Kita menyadari hal itu juga terjadi di negara-negara yang menguasai bahasa lokal dengan baik. Sebagai contoh pada saat mengunjungi dokter di negara tersebut. Di negara-negara dimana penguasaan bahasa lokal kita kurang baik, kemungkinan komunikasi kita dengan penduduk lokal menjadi terbatas. Terkadang untuk mendapatkan makanan persis seperti yang sangat kita inginkan, tidak selalu berhasil. Para penderita afasia mengalami hal-hal seperti ini sehari-hari. Dengan demikian, afasia adalah gangguan kemampuan berbahasa.
Menurut AIA (2011) tidak ada dua orang penderita afasia yang persis sama. Afasia berbeda dari satu orang dengan yang lain. Tingkat keparahan dan luasnya cakupan afasia bergantung dari lokasi dan keparahan cedera otak, kemampuan berbahasa sebelum afasia, dan kepribadian seseorang. Beberapa penderita afasia dapat mengerti bahasa dengan baik, tetapi mengalami kesulitan untuk mendapatkan kata-kata yang tepat atau membuat kalimat-kalimat. Penderita yang lain dapat berbicara panjang lebar, tetapi apa yang diucapkan susah atau tidak dapat dimengerti oleh lawan bicaranya. Penderita seperti ini sering mengalami masalah besar dalam memahami bahasa. Kemampuan berbahasa dari kebanyakan penderita afasia berada di antara dua situasi tadi. Perlu diingat, seseorang yang menderita afasia secara umum memiliki kapasitas intelektual yang penuh. Hampir selalu setelah terjadi afasia, secara spontan terjadi pemulihan kemampuan berbahasa. Jarang atau tidak pernah terjadi pemulihan penuh. Namun dengan banyak melakukan latihan, selalu mencoba, dan tetap bertahan, pada akhirnya akan mendapatkan perbaikan.
Lumempou (2003) mengatakan bahwa pasca serangan stroke selain meninggalkan kecacatan berupa kelumpuhan juga meninggalkan gangguan berbahasa atau Afasia. Meskipun gangguan afasia yang dialami pasien stroke hanya sekitar 15 %, namun sangat mengganggu karena mereka akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan individu lain. Sampai saat ini banyak masyarakat yang belum paham kalau akibat stroke bukan hanya lumpuh. Pasalnya, hasil penelitian ASEAN Neurological Association (ASNA) di tujuh negara ASEAN menunjukkan hanya 15% yang mengalami gangguan neuropsikologi ini. Sedangkan sisanya, 85% mengalami gangguan fungsi motorik atau kelumpuhan.
Dampak stroke memang sangat bervariasi, bergantung bagian mana dari otak yang terkena. Namun, karena lesi atau kerusakan itu bisa terjadi di mana saja maka gangguan tidak selalu tunggal. Hal ini disebabkan stroke merupakan serangan pada pembuluh darah otak, akibat tersumbatnya dinding pembuluh darah di otak. Aliran darah menjadi tersumbat atau pecah, sehingga terjadi pendarahan. Sel-sel otak yang kekurangan atau kelebihan darah akan rusak.
Lumempou (2003) melanjutkan bahwa afasia muncul karena gangguan di bagian-bagian otak yang bertugas memahami bahasa lisan dan tulisan, mengeluarkan isi pikiran, mengintegrasikan fungsi pemahaman bahasa dan mengeluarkannya, serta mengintegrasikan
pusat fungsi barbahasa ini dengan lainnya. Umumnya afasia muncul apabila otak kiri terganggu. Soalnya otak kiri bagian depan berperan untuk kelancaran menuturkan isi pikiran dalam bahasa dengan baik, dan otak kiri bagian belakang untuk mengerti bahasa yang didengar dari lawan bicara. Namun ada beberapa laporan yang menyatakan bahwa gangguan ini dapat terjadi di belahan otak kanan juga, meski begitu kasusnya sangat jarang.
Di pusat bahasa manusia, manusia memahami dan mengenal huruf, suku kata, arti kata, kalimat sederhana, kalimat bertingkat sampai yang kompleks dan abstrak, serta berbagai macam bahasa. Sedang di bagian lain ada yang bertugas mengeluarkan isi pikiran secara lisan dan tulisan, yang berarti harus berkoordinasi dengan pergerakan otot-otot jari.
Gangguan afasia terdiri dari afasia broca, wernicke, global, konduksi, transkortikal motorik, transkortikal sensorik, dan transkortikal campuran. Seseorang disebut mengalami afasia global bila semua modalitas bahasa meliputi kelancaran berbicara, pengertian bahasa lisan, penamaan, pengulangan, membaca dan menulis terganggu berat. Pada kasus ini penderita tidak bisa bicara sama sekali dan tidak mengerti apa yang dikatakan lawan bicara serta tidak bisa membaca dan menulis. Ini terjadi karena kerusakan otak yang luas disertai kelumpuhan otot-otot tubuh sisi kanan. Afasia Broca atau afasia motorik merupakan ketidakmampuan bertutur kata. Namun ia mengerti bila diperintah dan menjawab dengan gerakan tubuh sesuai perintah itu. Ini terjadi karena kerusakan yang terjadi berdampingan dengan pusat otak untuk pergerakan otot-otot tubuh. Kelumpuhan juga terjadi pada anggota tubuh bagian kanan.
Afasia Wernicke atau afasia sensorik merupakan kemampuan memahami lawan bisa bicara. Ia hanya lancar mengeluarkan isi pikiran, tetapi tidak mengerti pembicaraan orang lain. Sedangkan afasia konduksi merupakan ketidakmampuan mengulangi kata atau kalimat lawan bicara, namun penderita masih mampu mengeluarkan isi pikirannya dan menjawab kalimat lawan bicaranya.
Untuk afasia anomik membuat penderita ini tidak bisa menyebut nama benda yang dilihat, angka, huruf, bentuk gambar yang dilihat. Ia juga tak bisa menyebut nama binatang yang didengar suaranya atau benda yang diraba. Gangguan anomik terdapat pada semua penderita afasia dengan variasi kemampuan. Pada afasia transkortikal sensorik, gangguan mirip dengan Wernicke, tetapi mampu menirukan kata/kalimat lawan bicara, sedangkan gangguan afasia transkortikal campuran mirip afasia global, namun mampu menirukan ucapan lawan bicara.
Dari berbagai jenis afasia tersebut, afasia broca menjadi bahan penelitian dalam tesis ini. Penelitian ini dilakukan terhadap seorang informan yang telah mengalami afasia broca. Afasia yang dialami informan disebabkan oleh stroke hemaragik di belahan otak kiri. Dampak dari stroke tersebut menyisakan afasia broca dan melemahnya fungsi kaki sebelah kanan. Afasia broca disebut juga afasia motorik. Afasia broca ditandai oleh gangguan atau hilangnya kemampuan untuk menyatakan pikiran-pikiran yang dapat dimengerti dalam bentuk bicara dan menulis. Afasia broca atau afasia ekspresif timbul akibat gangguan pada pembuluh darah Karotis Interna, yaitu cabangnya yang menuju otak bagian tengah (Arteri serebri media) tepatnya pada cabang akhir (Arteri presentalis), afasia broca ini disertai kelemahan lengan lebih berat daripada tungkai. Arteri serebri media merupakan cabang arteri karotis interna yang paling besar.
Kusumoputro (1992) menyatakan bahwa afasia broca memiliki ciri bicara spontan pasien ialah lambat, tidak lancar atau terbata-bata, monoton dan kalimat pendek-pendek. Penyimakan bahasa baik, pengulangan kalimat buruk dan penyebutan nama benda buruk. Pasien sulit menemukan kata dan bicara tersendat-sendat dengan kalimat yang tidak lengkap. Orang yang mengidap afasia broca tidak menghadapi masalah dalam hal memahami orang lain. Pada umumnya gangguan menulis setara dengan gangguan berbicara, meniru ucapan terganggu, sedngkan pengertian bahasa lisan dan tulis lebih baik.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) memberikan gambaran tentang bunyi yang dipanggil dari leksikon mental informan, (2) memberikan gambaran tentang kekeliruan sintaksis pada informan dalam memproduksi bahasa, (3) memberikan gambaran tentang kekeliruan leksikal/semantik pada informan dalam memproduksi bahasa, dan (4) memberikan gambaran tentang siasat yang digunakan oleh informan dalam mengungkapkan gagasan yang hilang dari memorinya.
Studi kasus ini sudah dilakukan secara mendalam dalam jangka waktu lebih dari satu tahun, dengan seorang informan yang mempunyai karakteristik dalam menyiasati proses komunikasi dengan mitra tuturnya. Karakteristik afasia broca informan lebih banyak terlihat dari unsur leksikalnya, yaitu membuat makna tersendiri terhadap kata atau kalimat yang diucapkannya. Oleh karena itu, data yang didapat pun lebih banyak unsur leksikalnya. Hal ini menarik karena belum banyak penelitian tentang afasia broca yang dikaji dari segi leksikalnya. Alasan saya memilih penelitian ini karena berkenaan dengan perkembangan linguistik informan setelah informan sadar dari komanya dan mengalami afasia. Hasil keseluruhan perkembangan linguistik informan merupakan kajian yang menarik untuk diteliti. Hasil pengamatan yang terekam oleh saya adalah pada minggu awal informan kembali kesadarannya, informan mengalami afasia anomik karena ia tidak bisa menyebut nama benda yang dilihat, angka, huruf, bentuk gambar yang dilihat, bahkan ketika berusaha membaca koran, ternyata korannya terbalik. Informan juga tidak bisa menyebut nama binatang yang didengar suaranya atau benda yang diraba. Tetapi menurut keterangan dokter afasia anomik dapat terjadi pada semua penderita afasia. Perkembangan selanjutnya informan mengalami afasia broca. Alasannya adalah informan mengalami kesulitan dalam mengucapkan suatu kata sehingga penderita menampakkan gejala ekspresi verbal yang tidak fasih. Hal ini terbukti karena dari segi verbal, informan mengalami kesulitan memproduksi bahasa, ujaran dia tidak mudah dimengerti orang, dan kata-kata dia tidak diucapkan dengan cukup jelas. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, lalu konsultasi dengan dokter saraf informan, dan hasil CT Scanenya, maka informan dikategorikan menderita afasia broca sehingga penelitian ini difokuskan pada afasia broca.
B. METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan melalui pendekatan kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan berasal dari hasil wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, dan catatan memo. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam, rinci, dan tuntas. Oleh karena itu, penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakan metode deskriptif.
Pertimbangan saya menggunakan penelitian kualitatif ini adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan berdasarkan hasil pengamatan dari informan yang mengalami afasia broca, yang sudah mengalami stroke, dan sisa stroke tersebut mengakibatkan terganggunya hemisfere kiri di daerah lobus temporalis tepatnya di area broca. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrumen aktif dalam upaya mengumpulkan data di lapangan. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang lain selain penderita afasia broca adalah berbagai bentuk alat bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrumen pendukung.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahasa lisan dari seorang informan tentang kekeliruan berbahasa yang mengganggu aktivitas informan akibat stroke hemoragik. Caranya dengan mengadakan observasi terhadap seorang informan yang telah mengalami afasia selama delapan tahun.
C. LANDASAN TEORI
Afasia
Afasia adalah gangguan dalam fungsi bahasa. Hal ini mengimplikasikan bahwa daya ingat nonverbal dan pemikiran pada dasarnya masih tetap utuh. Atau dengan kata lain, seseorsang dapat berpikir, tetapi pengungkapan pemikirannya melalui bahasa terganggu. Afasia adalah gangguan kemampuan bahasa seseorang yang disebabkan oleh kerusakan otak akibat suatu gangguan peredaran darah di otak (stroke) atau cidera kepala yang menyebabkan cidera otak (Kusumoputro, 1992). Gangguan peredaran darah di otak (GPDO) adalah penghentian pengaliran darah ke sebagian otak yang disebabkan oleh emboli, thrombosis, atau perdarahan. Hal ini merupakan salah satu awal dari terjadinya stroke.
Menurut Adi Sulistyanto (2010), istilah afasia terutama dikaitkan dengan fungsi bahasa dalam berbicara. Afasia patut dibedakan dengan kelainan secara fisik dalam berbicara yang disebut disartria yang mempengaruhi artikulasi atau fonasi dalam berbicara. Terkadang penderita afasia sering mengalami beberapa masalah yang terdiri dari kehilangan kemampuan untuk mengerti kata-kata yang diucapkan yang biasa dikenal dengan kehilangan kemampuan untuk memberi nama suatu objek, kehilangan kemampuan untuk mengerti simbol-simbol tertulis, gangguan dalam menyebut, gangguan dalam meniru ucapan, gangguan dalam menulis, kerusakan dalam tata bahasa (agramatism). Goodglass dan Kaplan (1972) membuat klasifikasi atas dasar ciri-ciri penamaan kata, kefasihan, meniru ucapan, dan pemahaman auditif. Penamaan tersebut menunjukkan ciri khas dari setiap sindrom afasia.
Karakteristik setiap sindrom afasia ditandai oleh letak lesi yang terkena. Oleh karena, serabut saraf di otak saling berdekatan maka sindrom afasianya pun saling berhubungan. Seperti, pada sindrom afasia broca, yaitu afasia yang mencirikan kecacatan area produksi berbahasa tidak menuntut kemungkinan juga pemahamannya terganggu. Padahal area untuk pemahaman tersebut ada di wernicke.
Linguistik Linguistik berarti ‘ilmu bahasa’. Kata “linguistik” berasal dari kata Latin lingua ‘bahasa’. Kata Latin itu masih kita jumpai dalam banyak bahasa yang berasal dari Latin, misalnya Prancis (langue, language), Italia (lingua), atau Spanyol (lengua), dan dulu pernah bahasa Inggris meminjam dari bahasa Prancis kata yang sekarang berbunyi language. Sesuai dengan asal Latin/ Roman itu, maka ilmu linguistik dikenal sebagai linguistics dalam bahasa Inggris, dan sebagai linguistique dalam bahasa Prancis. Bentuk Indonesia dari istilah tersebut ialah linguistik. (Verhaar, 1984:3)
Pada penelitian ini bidang fonologi, sintaksis, dan semantik leksikal merupakan bidang yang menjadi bahan kajian dalam psikolinguistik. Tepatnya beberapa bidang ilmu linguistik yang dikaji dalam penelitian afasia broca.
Muslich (2008:2) mengatakan bahwa material bahasa adalah bunyi-bunyi ujar. Kajian mendalam tentang bunyi-bunyi ujar ini diselidiki oleh cabang linguistik yang disebut fonologi. Sebagai bidang yang berkonsentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguistik yang lain, baik linguistik teoretis maupun terapan. Misalnya pada penelitian saya ini, yaitu psikolinguistik karena sasaran analisisnya adalah bahasa lisan penderita afasia broca.
Apabila dikaitkan dengan proses berbahasa lisan maka ada istilah fonologi yang disebut ketidaklancaran berujar (language disordered atau language disabilities). Ketidaklancaran berujar ini merujuk pada kegagalan atau ketidakmampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa lisan dengan lancar dan berkesan. Pada umumnya, penutur yang mempunyai ketidaklancaran berujar ini akan sukar atau tidak langsung merespons yang sewajarnya atau keadaan lain yang tidak diharapkan dalam suatu percakapan. Masalah ketidaklancaran berujar oleh penutur ini dapat dilihat dari segi atau keadaan kelemahan organ pertuturannya. Permasalahn ini bisa disebabkan oleh kegagapan, kelumpuhan saraf, afasia, disleksia, disatria, dan lain-lain (Lahey, 1988:20-21 dalam Muslich, 2008:10-11).
Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur-unsur suatu satuan serta hubungan antara unsur-unsur itu dalam suatu satuan, baik hubungan fungsional maupun hubungan maknawi.
Menurut Dardjowidjojo (2008:18-19) pada saat teori aliran mentalistik yang dipelopori Chomsky mencapai tahap teori standar pada tahun 1965, komponen sintaksis merupakan komponen sentral. Dengan mempergunakan aturan struktur frase komponen sintaksis menggeneralisasikan struktur batin yang merepresentasikan makna kalimat. Suatu kalimat seperti
Pemimpin muda itu harus mencari jalan terbaik.
Dalam teori standar Chomsky, hasil penerapan aturan struktur frase seperti di atas bisa dikenai aturan transformasi untuk mengubahnya menjadi kalimat lain, yang diturunkan menjadi kalimat negatif
Pemimpin muda itu tidak harus mencari jalan terbaik.
dengan menerapkan aturan transformasi negatif. Keluaran dari komponen sintaksis tanpa transformasi dinamakan struktur batin. Setelah transformasi dinamakan struktur lahir.
Keluaran yang dihasilkan oleh komponen sintaktik, kemudian dikirim ke komponen fonologi untuk mendapatkan interpretasi fonologis. Pada komponen ini masukan dari komponen sintaktik ditelaah secara fonologis, yakni dicermati apakah semua kaidah fonologis bahasa tersebut telah ditaati. Pada contoh di atas kita lihat adanya kata mencari. Kata ini terdiri dari prefik meN- dan kata dasar cari. Komponen fonologi akan melihat apakah campuran meN- dengan cari yang menghasilkan mencari itu sesuai dengan aturan fonotaktik bahasa kita. Bila memang ada perkecualian, seperti halnya kulak dan peN- yang menjadi tengkulak, bukan pengulak, maka aturan perkecualian itu pun sudah ada tertera dalam komponen ini. Bila masukan dari komponen sintaktik ada yang mengandung bentuk fonologis yang melanggar aturan bahasa tersebut maka kata ini akan ditolak atau diperlakukan sebagai kata asing. (Dardjowidjojo, 2008:20-21)
Semantik leksikal adalah makna sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi kita, makna apa adanya, atau makna yang ada dalam kamus. Sementara menurut Kridalaksana (1984:175) semantik leksikal adalah penyelidikan makna unsur-unsur kosa kata suatu bahasa pada umumnya.
Menurut Djajasudarma (2009:16) makna leksikal (bhs. Inggris; lexical meaning, semantic meaning, external meaning) adalah makna unsur-unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain. Makna leksikal ini dimiliki unsur-unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.
Psikolonguistik
Dardjowidjojo (2008:2-6) memberi istilah psikolinguistik sebagai ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu psikologi dan linguistik. Perkembangan psikolinguistik dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap formatif, tahap linguistik, tahap kognitif, dan tahap teori psikolinguistik. Tahap formatif berawal pada pertengahan abad ke dua puluh ,yaitu John W. Gardner, seorang psikolog Amerika menggagas hibridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Ide itu kemudian dikembangkan oleh ahli psikolog lain, John B. Carroll dengan merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini dengan mengadakan penelitian-penelitian oleh para ahli psikologi dengan ahli linguistik sehingga sejak itu istilah psikolinguistik mulai dipakai; Tahap linguistik, yaitu perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (nativisme) pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, Syntactic Structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B.F. Skinner (Chomsky, 1959 dalam Dardjowidjojo, 2008:3) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini makin berkembang karena pandangan Chomsky tentang universal bahasa makin mengarah pada pemerolehan bahasa; Tahap kognitif, psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif. Tata bahasa, misalnya, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari kognisi manusia karena konstituen dalam suatu ujaran sebenarnya mencerminkan realita psikologi yang ada pada manusia tersebut; dan tahap teori psikolinguistik, pada tahap ini psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain, seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.
D. ANALISIS
a. Kekeliruan Berbahasa pada Informan
(a) Kekeliruan Fonologi Komponen fonologi menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan bunyi. Bunyi merupakan simbol lisan yang dipakai oleh manusia untuk menyampaikan segala sesuatu yang ingin diinformasikan. Dalam komponen fonologi, bunyi-bunyi dibentuk dalam suatu sistem yang disebut bahasa. Jika bunyi-bunyi yang dibentuk tersebut tidak sesuai maka bunyi yang sudah berbentuk kata akan ditolak oleh bahasa yang bersangkutan. Pada penderita afasia broca bunyi yang ditolak itu merupakan suatu kekeliruan dalam produksi berbahasanya, seperti:
(1) In: “Engke beli toyona kalau gak ada baru masak tongkol.”
(2) In: ”Ieu laba?” (sambil memegang cabe rawit lalu menunjukkan pada A2)
A2: ”Lada ya pah?”
Pada data (1) tampak informan mengalami kekeliruan dalam memproduksi kata soto.
Arti leksikal toyo ternyata tidak ditemukan dalam kamus bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda sehingga inferensinya bahwa kata toyo tidak bermakna. Maksud kata toyo yang diujarkan oleh informan adalah soto, yang mempunyai makna leksikal ’masakan yang kuahnya dimasak tersendiri dan rangkaian isinya antara lain daging, kentang, bawang goreng yang dimasukkan kemudian, pada waktu akan dihidangkan.’ (KBBI, 2003:1086). Informan mengujarkan kata toyo ketika akan pergi ke kantor dan melewati sebuah warung soto di daerah Sayati, Kabupaten Bandung.
Di sini jelas bahwa informan mengalami kekeliruan dalam memproduksi bahasa, yang oleh Dardjowidjojo (2008:149) disebut kekeliruan asembling. Kekeliruan asembling adalah kekeliruan di mana kata-kata yang dipilih sudah benar, tetapi asemblingnya keliru. Pada kekeliruan semacam ini, informan mengubah bunyi konsonan pertama /s/ dengan /t/ dan bunyi konsonan kedua [t] dengan bunyi konsonan [y]. Sementara itu, informan pun memindahkan bunyinya dari suatu posisi ke posisi yang lain, yaitu kata soto dengan toyo. Inferensi yang dapat ditarik dari kalimat tersebut adalah informan hanya mengingat suku kata terakhirnya saja, yaitu bunyi to- sehingga informan nenyiasatinya dengan mengasosiasikan bunyi yang baru yaitu bunyi –yo.
Informan dalam menggolongkan bunyi tertentu ke dalam fonem tertentu menghadapi kesulitan khusus, seperti bunyi [s] pada soto diubah bunyinya menjadi [t] pada suku kata pertama. Begitu juga diubahnya bunyi [t] pada suku kata terakhir dengan bunyi [y]. Kesulitan khusus ini disebut juga kesulitan dalam oposisi. Kesulitan oposisi ini bukan tanpa alasan karena informan di leksikon mentalnya sudah akan mengeluarkan kata soto, bahkan kata soto telah terabstraksikan dalam benaknya tetapi gangguan produksi berbahasa itulah yang menyebabkan informan melakukan asimilasi bunyi soto menjadi toyo. Berdasarkan hal tersebut, informan membuat pola yang sama antara bunyi ciptaannya (toyo) dengan bunyi yang masih tersimpan di leksikon mentalnya (soto), yaitu:
Bentuk bunyi : s o t o → t o y o
Pola silabe :[ K V K V] → [K V K V]
Kondisi ini dapat pula dijelaskan lewat jarak antara organ yang terlibat dengan produksi berbahasa. Pada dasarnya, setelah kata untuk calon kalimat itu selesai diproses dan akan diujarkan, maka bagian otak yang bertanggung jawab mengenai pengujaran, yakni daerah broca, memerintahkan korteks motor untuk “mulai bekerja”. (Korteks motor adalah sebuah jalur di otak yang mengendalikan lidah, rahang, gigi, pita suara, dan mekanisme wicara lainnya). Karena jarak antara otak dengan alat penyuara itu berbeda-beda maka intruksi dari otak juga diberikan secara berurutan. Jarak yang paling jauh adalah jarak dari otak ke pita suara. Agar iringan getar suara sebagai [+vois] atau [-vois] dengan segmen fonetiknya itu tepat, maka instruksi ke pita suara diberikan paling awal, sekitar 0,30 milidetik sebelum intruksi ke segmen bunyi itu dikeluarkan (Dardjowidjojo, 2008:157). Area broca bersebelahan dengan korteks motorik yang mengontrol otot-otot wajah, lidah, rahang, dan tenggorokan. Jika area broca rusak oleh stroke, akan hampir selalu terjadi kerusakan yang parah di daerah korteks motorik yang mengontrol otot-otot wajah tadi, sehingga diperkirakan gangguan ujaran disebabkan oleh kelumpuhan parsial otot yang dibutuhkan untuk artikulasi. Pada penderita afasia broca jarak tersebut dapat menyebabkan terganggunya perintah otak ke pita suara dan di situlah letak gangguan berbahasa terjadi.
Dalam leksikon mental informan terdapat sistem bunyi bahasa yang dia kuasai tetapi ketika memanggil bunyi bahasa tersebut menjadi keliru karena gangguan area broca yang dideritanya. Oleh karena itu, informan mendapat kesulitan dalam memanggil bunyi bahasa yang seharusnya diujarkan. Ini dapat terlihat pada data percakapan berikut, yaitu ketika informan memberitahu rasa cabe rawit kepada mitra tuturnya.
(2) In: “ieu laba da.”(sambil memegang cabe rawit lalu menunjukkan pada A2)
Informan pada saat itu menganggukan kepalanya dan meminta air minum pada anaknya.
Inferensinya terlihat dari gesture yang digerakkan oleh tangan informan, yaitu bahwa cabe rawit yang dimakannya lada (B.Sd) atau ‘pedas’. Kekeliruan Asembling ini oleh Dardjowidjojo (2008: 148) disebut kekeliruan transposisi. Kekeliruan transposisi pada kasus informan penderita afasia broca adalah menukar tempat bunyi /d/ dengan bunyi /b/ sehingga muncul kalimat ”Ieu laba.” Sekali lagi siasat yang dipergunakan informan dalam menjelaskan kalimatnya dengan dibantu oleh bahasa nonverbal, yaitu dengan menggunakan gerakan tangan dan mimik muka. Caranya dengan memegang cabe rawit dan menunjukkannya kepada (A2). Strategi-strategi ini ternyata berhasill dalam membangun komunikasi dengan mitra tuturnya.
Pada data (2) tampak informan mengganti bunyi awal suku kata kedua dalam kata laba dan kata lada, yaitu bunyi [d] diganti dengan bunyi [b]. Menurut makna leksikal, kata laba adalah 1. selisih bersih antara penjualan yang lebih besar dari harga pembelian atau biaya produksi, keuntungan; 2. faedah, guna, manfaat.(KBBI, 2003:621) Sementara kata lada merupakan kata dalam bahasa Sunda yang mempunyai makna leksikal 1. pedas; 2. cabe. (KBS, 2008:370)
Pada data ini pun informan membuat asimilasi bunyi, yaitu mengubah bunyi [d] pada lada dengan bunyi [b] pada laba. Akan tetapi, yang menarik di sini informan mengasimilasikan bunyi [d] menjadi [b] dalam daerah artikulasi yang sama, yaitu plosif. Sementara cara pengucapannya berbeda karena bunyi [b] yang diciptakan informan pada data merupakan bunyi bilabial, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan bibir (labium) atas. Dan bunyi [d] merupakan bunyi apiko-dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gigi (dentum) atas. Di sini pun tampak bahwa pola bunyi yang tidak bisa terabstraksikan oleh informan sama dengan bunyi yang diciptakan informan, yaitu:
Bentuk bunyi : l a d a → l a b a
Pola silabe : [K V K V] → [K V K V]
Persepsi kita terhadap bunyi dan gabungan bunyi yang kita dengar ditentukan oleh tanda neurofisiologis yang telah tertanam pada otak kita. Akan tetapi, ketika terjadi gangguan berbahasa maka akan terjadi kekeliruan bunyi. Walaupun demikian kekeliruan bunyi itu masih dapat dianalisis. Oleh karena informan tidak sembarangan mengambil kata. Pemanggilan bunyi bahasa yang dilakukan oleh informan tidak bersifat manasuka karena penyimpangan bunyi-bunyi bahasa yang diambilnya tidak terlalu jauh, yaitu masih dalam urutan sonoritas yang sama, dengan pola sebagai berikut: Plosif
T-vois Vois Frikatif
T-vois Vois Nasal Likuid S.vokal Vokal
Ting.-Rend.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: